Islam Web

Artikel

  1. Home
  2. Artikel
  3. KELUARGA DAN MASYARAKAT
  4. Rumah Tangga

Rambu-rambu di Jalan Kebaikan

Rambu-rambu di Jalan Kebaikan

Tidak diragukan lagi bahwa para orang tua memiliki peran yang menentukan dalam menjaga anak-anak mereka agar tidak terjerumus ke dalam kedurhakaan. Oleh karena mencegah lebih baik daripada mengobati, maka kami memulai tulisan ini dengan usaha pencegahan itu. Kami mengarahkan pembicaraan kepada para orang tua yang mulia, yang di pundak mereka terletak peran besar dalam proses pelaksanaan proyek besar itu, yaitu menjaga pemuda agar tidak terjerumus ke dalam kedurhakaan kepada orang tua.

Keluarga adalah wahana pendidikan pertama yang di dalamnya seorang remaja tumbuh berkembang. Oleh sebab itu, keluarga memiliki pengaruh yang kuat dalam perkembangan anak-anak. Cukuplah bagi Anda bila mengetahui bahwa anak-anak bertingkah-laku sesuai dengan lingkungannya. Lingkungan akan membentuk cara anak belajar perilakunya. Jika perkembangan anak-anak remaja sejak awal dibangun di atas nilai-nilai kebaikan dan kesetiaan, sudah barang tentu akan memberi pengaruh yang besar kepada perilaku mereka.

Di antara langkah-langkah penting yang harus ditempuh oleh para orang tua dalam mencegah munculnya perilaku durhaka pada anak adalah:

1.    Berhati-hatilah. Orang tua perlu sangat berhati-hati agar tidak sampai mendidik anak-anaknya untuk durhaka. Mungkin sebagian orang mengatakan, apakah ada orang tua yang mendidik anak-anak mereka untuk durhaka? Jawabannya, ada. Sebagian orang tua mungkin tanpa disadari menanam ranjau dengan tangan mereka, dan kemudian ranjau itu meledak membunuh mereka sendiri. Contohnya, kita melihat ada keluarga yang gembira dengan pertumbuhan anak serta kemampuannya berbicara dan bergerak. Lalu mereka berkata kepadanya, "Pukul ibumu, pukul ayahmu, caci ibumu, caci ayahmu!" Padahal, dari sana sebenarnya mereka telah mencampuradukkan antara keseriusan dengan senda gurau, sehingga standar nilai menjadi terbalik. Mereka tidak menyadari bahwa mereka sesungguhnya sedang menanamkan sejak dini kepada anak kecil yang tidak berdosa itu sikap tidak menghormati orang tua. Padahal kita tahu bahwa siapa yang tumbuh dalam suatu kebiasaan, kelak sampai tua pun ia akan terbiasa dengan kebiasaan itu.

2.    Bersungguh-sungguh dalam mengajarkan kebaikan. Ada langkah yang juga penting dalam menjaga anak dari sikap durhaka kepada orang tua, yaitu mendidik mereka untuk menghormati orang tua, serta mengetahui kedudukan dan kemuliaan kedua orang tua. Karena ketidaktahuan akan kedudukan orang tua serta akibat di dunia dan Akhirat yang timbul karena durhaka kepada mereka, kadang bisa membawa anak untuk bersikap durhaka kepada orang tuanya.

3.    Berlaku adillah, agar semua anak Anda juga sama dalam berbakti kepada Anda. Sebagian orang tua terjatuh ke dalam perangkap ketidakadilan terhadap anak-anaknya, dengan cara mengedepankan sebagian anak dibandingkan anak yang lain. Sikap seperti ini tentu merupakan perilaku kezaliman yang nyata. Oleh sebab itu, Allah sangat melarang dan mengingatkan akibat buruk dari perilaku seperti ini. Ketika Basyîr ibnu Sa'ad datang kepada Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—untuk memberi sesuatu kepada anaknya An-Nu`mân, Rasul berkata kepadanya, "Apakah setiap anakmu engkau beri seperti yang engkau berikan kepada An-Nu`mân?" Ia menjawab, "Tidak." Mendengar itu, Rasul berkata, "Mintalah kesaksian orang selainku. Tidakkah engkau senang bila mereka sama dalam berbakti kepadamu?" [Menurut Al-Albâni: shahîh]

Langkah-langkah Pengobatan

Adapun sekarang, setelah kita berbicara tentang bahaya durhaka kepada orang tua, dan kita sudah sampaikan juga langkah-langkah pencegahannya, sekarang saatnya bagi kita menawarkan langkah-langkah untuk mengatasinya, yaitu:

1.   Menyadari keutamaan berbakti dan akibat kedurhakaan. Ini merupakan salah satu hal terpenting yang wajib disadari dan dikuasai oleh setiap orang yang mendambakan perilaku berbakti kepada orang tua. Manusia memiliki kemampuan untuk berpindah dari satu kondisi kepada kondisi yang lain apabila menemukan faktor pendorong yang kuat untuk itu. Dan tidak diragukan lagi bahwa mengetahui buah dan imbalan dari perilaku berbakti merupakan dorongan terbesar untuk melakukan, mencontoh, dan berusaha sampai kepadanya. Demikian juga, merenungkan akibat buruk dari perilaku durhaka kepada orang tua, serta kegelisahan, kesedihan, kerugian, dan penyesalan yang ditimbulkan olehnya di dunia sebelum hari Kiamat sangat membantu untuk melahirkan sikap berberbakti kepada orang tua dan menjauhkan diri dari sikap durhaka.

2.   Teman yang baik. Saudaraku tercinta, Anda harus memiliki pendamping dan teman yang mau memperbaiki kesalahanmu serta mau menjelaskan rintangan-rintangan dunia kepadamu. Jika kita sangat memerlukan teman dalam perjalanan di dunia, tentu kita lebih membutuhkannya dalam perjalanan menuju Akhirat. Di perjalanan ini, seorang mukmin sangat butuh kepada penolong yang baik, pendamping yang sejalan, yang mau berjalan bersamanya laksana sepasang tangan yang saling membersihkan satu sama lain.

Teman yang baik itu adalah orang-orang taat yang bersedia menggenggam kedua tangamu di jalan kebaikan, dan kalian saling menasihati dalam kebenaran. Jika suatu hari Anda terjerumus ke dalam kedurhakaan atau nyaris bersikap durhaka, mereka akan menyelamatkan Anda dengan nasihat, arahan, serta ungkapan dan adab mereka yang indah.

Oleh sebab itu, Anda harus menjauhi semua teman yang tidak baik, yang merupakan penyebab datangnya semua bala bencana. Apalagi, saat ini Anda berada di masa-masa puber. Anda harus mengetahui dengan baik bahwa: "Pertemanan itu adalah pilihan. Ia adalah hubungan yang dipilih sendiri oleh seorang remaja untuk dirinya. Ia sendiri yang memilih teman-temannya serta membangun hubungan dengan mereka berdasarkan keinginan dan kecenderungannya." Masalah yang berbahaya adalah bahwa seringkali pilihan itu terjadi dalam bentuk yang spontan, karena ia tumbuh seiring dengan pertumbuhan remaja selama perkembangan masa kanak-kanaknya. Atau melalui teman dekatnya di sekolah atau kampus.

Bisa jadi teman adalah jalan yang menggiring Anda kepada sikap durhaka kepada orang tua, melalui pergaulan Anda dengannya yang membuat Anda tertarik dengan sikap dan perilakunya. Oleh karena itu, pilihlah teman-teman Anda dengan sangat hati-hati dan penuh pertimbangan.

3.   Orang-orang yang setia. Di sini, Anda harus bertanya kepada diri Anda, "Apakah Anda adalah orang yang setia dan pandai membalas budi?" Mungkin dengan cepat dan berani Anda mengatakan: ya, sudah barang tentu saya adalah orang yang pandai membalas budi! Ini bagus, namun sebelum Anda sampai kepada tingkat itu, ada beberapa pertanyaan yang bila Anda jawab dengan "ya", berarti Anda memiliki kesetiaan dan pandai membalas budi. Tetapi jika Anda menjawab dengan "tidak", maka Anda harus berusaha menopang jawaban Anda dengan "ya". Pertanyaan-pertanyaan itu adalah:

-      Apakah Anda selalu ingat jasa-jasa kedua orang tua Anda terhadap Anda?

-      Apakah Anda selalu berterima kasih kepada orang tua Anda atas pendidikan dan perhatian yang telah mereka berikan kepada Anda?

-      Apakah Anda mendoakan keduanya di dalam shalat Anda, di saat pergi dan pulang sekolah, di saat bersama teman-teman Anda, dan di saat Anda sendiri?

-      Pernahkah suatu hari Anda berpikir untuk memberikan sesuatu kepada keduanya sebagai ungkapan cinta dan setia Anda kepada keduanya?

-      Apakah ketika Anda merasa lalai terhadap hak keduanya Anda segera mencela diri Anda dan segera melayani keduanya?

Ini sedikit dari sekian banyak pertanyaan yang harus diketahui oleh orang-orang yang setia dan tahu balas budi. Subhânallâh, dalam hidup ini, kita wahai pemuda, apabila ada salah seorang teman memberi satu kebaikan atau banyak bantuan kepada kita, mungkin kita selalu mengingatnya dan berbuat baik kepadanya karena kebaikan yang ia berikan itu, dan kita selalu menyebut kebaikannya di saat ia tidak ada. Kita akan berkata, "Si Fulan itu tidak bisa saya lupakan, ia betul-betul seorang yang baik. Ia pernah melakukan sesuatu yang mulia terhadap saya pada suatu hari."

Demi Allah, bagaimana kita bisa seperti ini dengan teman-teman kita tetapi tidak demikian dengan ayah dan ibu kita yang telah berkorban untuk kita sepanjang hidup? Mereka telah mengorbankan waktu mereka agar kita bisa bahagia dengan waktu kita. Mereka telah menafkahkan harta mereka agar saku kita penuh. Entah berapa banyak malam yang mereka lalui tanpa tidur karena menangisi kita yang sedang sakit. Entah berapa banyak hari-hari mereka yang mereka habiskan untuk memikirkan kebutuhan kita? Entah berapa banyak jumlah doa tulus untuk kita yang keluar dari mulut mereka memenuhi angkasa. Betapa sering ayah dan ibu yang penyayang memperhatikan belahan jantung dan buah hati mereka. Mereka berdua memimpikan hari di mana si anak tumbuh menjadi pemuda dewasa, muslim yang sukses, yang memenuhi kehidupan mereka dengan kebahagiaan, kegembiraan, dan suka cita. Demi Allah, ini baru sedikit dari sekian banyak jasa-jasa mereka yang tidak kita sebutkan. Tidakkah kita mau membalas budi mereka?

Peran Keluarga

1.   Memahami Fase Remaja

Terlebih dahulu, saya ingin bertanya, apa yang membawa seorang remaja berbeda pendapat dengan kedua orang tuanya? Dan apa yang membuatnya mau mendebat dan membantah, padahal dahulunya ia adalah seorang yang penurut di masa kecilnya? Kenapa ia terdorong untuk bebas dan berusaha sendiri dalam mengambil keputusan?

Sepertinya jawaban atas semua pertanyaan ini terangkum pada fakta bahwa remaja hidup pada fase yang baru, yang dinamakan dengan masa pubertas. Semakin mampu orang tua memahami fase ini, akan semakin besar kemungkinan anak berbakti. Sebaliknya, semakin gagal orang tua dalam berinteraksi dengan fase ini dalam bentuk pendidikan yang baik, semain besar pula kemungkinan terjadi kedurhakaan anak. Dan ini merupakan faktor terbesar yang membawa anak kepada sikap durhaka, yaitu tidak adanya saling pengertian antara pihak orang tua dengan pihak anak. Anak-anak ingin membangun kehidupan mereka dengan cara mereka sendiri sesuai dengan pandangan mereka dan teman-teman mereka. Sedangkan orang tua memandang dengan kacamata dan tradisi mereka sendiri, sehingga masing-masing pihak hidup di lembah berbeda. Semakin dalam pemahaman orang tua tentang fase pubertas ini, semakin besar kemungkinan dibangunnya interaksi bersama anak atas dasar metode yang jelas, serta kesadaran dan pengetahuan. Insyâallâh, hal itu akan melahirkan sikap berbakti dan kesopanan dalam diri anak.

Sebelumnya telah kami jelaskan bahwa remaja yang sedang berada di fase pubertas ini memiliki banyak kebutuhan yang ingin ia realisasikan. Misalnya kebutuhan kepada kedamaian, penerimaan, rasa tanggung jawab, dan lain-lain. Semakin paham kedua orang tua terhadap kebutuhan ini, akan semakin kuat pula komunikasi yang terbangun, semakin sukses pula hubungan yang terjalin, dan dapat dipastikan bahwa bakti anak juga akan semakin tinggi dan kuat. Oleh sebab itu, sekarang kita sangat perlu menambah bacaan dan pengetahuan tentang kebutuhan anak pada fase pubertas dan bagaimana berinteraksi dengannya.

2.   Hentikan Pertikaian

Adalah penting orang tua memahami bahwa anak-anak mereka di dalam fase pubertas ini butuh kepada perasaan bahwa orang tua mereka menghargai mereka dan mengetahui bahwa mereka telah berpindah dari dunia anak-anak kepada dunia remaja. Kita menemukan fakta bahwa sikap keluarga yang menentang, meremehkan, dan menghina anak remaja seringkali menambah lengket sang anak dengan temannya, dan semakin menambah daya pengaruh sang teman terhadap dirinya. Suatu hal yang pasti, di fase ini mereka sedang membutuhkan cinta dan kedekatan, lebih dibandingkan kebutuhan-kebutuhan yang lain.

3.   Perasaan Ditolak Akan Mengakibatkan Rasa Keterasingan

Penting kami tegaskan di sini bahwa setiap kali remaja merasakan penerimaan dan penghargaan, setiap itu pula kecintaan kepada kedua orang tuanya semakin besar. Oleh sebab itu, sesungguhnya semakin sanggup kita menerima dan menghargai karakter pribadi yang mendasar pada anak remaja kita, akan semakin bertambah rasa nyaman mereka bersama kita, dan akan semakin bertambah pula keinginan mereka untuk menghabiskan waktu di rumah. Dan suatu hal yang pasti adalah bahwa perasaan diterima dan dihargai ini juga akan mendorong lahirnya rasa penerimaan dan penghargaan juga dari pihak anak.

[Sumber: www.islammemo.cc]

 

 

Artikel Terkait