Samâhah (Lapang Dada)

0 0

Ketika Anda mendapatkan seorang yang bersikap mudah dan ringan, mudah merelakan bagiannya, atau sebagian dari haknya demi menyelesaikan permasalahan yang ia terlibat di dalamnya, atau demi menggulung lembaran yang telah panjang lebar diperdebatkan, atau demi menghimpun hati orang yang menjauhinya, atau untuk menyenangkan hati saudaranya, sementara sebelumnya ia tidak melanggar hak saudaranya, tidak bersumpah demi menuntut haknya, maka ia itulah seorang yang lapang dada, dan itulah yang dimaksud dengan sifat samâhah (lapang dada).

Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—pernah mendoakan dengan doa kerahmatan bagi seorang yang lapang dada. Berliau bersabda, "Semoga Allah merahmati lelaki yang lapang dada ketika menjual, ketika membeli, dan ketika menagih hak." [HR. Al-Bukhâri]. Dalam riwayat lain disebutkan, "Dan ketika melunasi kewajiban." Hal-hal tersebut dalam hadits di atas tidak lain merupakan gambaran interaksi sehari-hari yang banyak memerlukan sifat samâhah.

Mengomentari hadits di atas, Ibnu Hajar—Semoga Allah merahmatinya—berkata: "Suhûlah (mudah untuk berlaku baik), dan samâhah (lapang dada) memiliki makna yang berdekatan. Yang dimaksud dengan samâhah adalah meninggalkan keluh kesah dan sejenisnya. Ketika ia menagih haknya, ia menagihnya dengan baik, tidak dengan memaksa. Dan ketika dia melunasi kewajibannya, ia melakukannya dengan tanpa menunda-nunda. Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk bersikap lapang dada dalam berinteraksi, anjuran untuk menggunakan akhlak-akhlak yang terpuji, meninggalkan percekcokan, juga anjuran untuk menghindari perilaku menindas orang lain dalam menagih hak, serta anjuran menerima permintaan maaf orang lain."

Permusuhan sering kali terjadi dalam urusan harta, ketika debat lantaran perbedaan pendapat, dan perang mulut. Jarang selamat dari hal ini orang yang tidak memiliki akhlak mulia, sifat mudah berbuat baik, dan lapang dada.

Di antara bentuk-bentuk sifat samâhah (lapang dada):

1. Merelakan haknya.

Seorang yang memiliki sifat samâhah, hatinya tidak akan merasa tenang ketika ia meraih haknya, sementara orang lain tidak merasa senang dengan hal itu, sehingga ia lebih memilih merelakan haknya, atau berlapang dada selagi itu adalah benar-benar haknya. Inilah yang ditunjukkan oleh Utsman ibnu `Affân—Semoga Allah meridhainya—ketika ia membeli sebidang tanah dari seseorang. Pemilik tanah itu terlambat datang untuk mengambil harga tanahnya. Akhirnya Utsman tahu bahwa sebab laki-laki tersebut terlambat datang adalah karena setelah akad jual-beli dilakukan, ia merasa rugi, sementara orang-orang mencelanya, bagaimana mungkin ia menjual tanahnya seharga itu? Maka Utsman—Semoga Allah meridhainya—berkata, "Pilihlah olehmu, tanahmu atau hartamu (harga penjualan tanahmu)!" Kemudian ia membacakan hadits kepadanya, "Allah`Azza wajallamemasukkan seorang laki-laki ke dalam surga lantaran ia adalah seorang yang lapang dada dalam membeli dan menjual, serta dalam melunasi kewajiban dan menagih hak." [HR. Ahmad]

2. Memberi tenggang waktu bagi orang yang kesulitan membayar hutang.

Memberi tenggang waktu bagi orang yang kesulitan membayar hutang, atau membebaskan hutang, atau sebagian dari hutang orang lain merupakan salah satu bentuk kedermawanan dan sifat lapang dada. Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Seorang saudagar gemar memberikan pinjaman kepada orang-orang. Ketika ia melihat seseorang yang kesulitan membayar hutangnya, saudagar itu berkata kepada pembantunya, 'Bebaskan saja hutangnya, semoga saja Allah membebaskan kita (mengampuni dosa-dosa kita).' Maka Allah pun membebaskannya." [HR. Al-Bukhâri]. Bahkan kemudahan di dunia dan akhirat bergantung pada kemudahan yang Anda berikan kepada saudara Anda. Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Barang siapa yang memudahkan urusan seorang yang kesusahan, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat." [HR. Muslim]

3. Mengembalikan pinjaman dengan yang lebih baik.

Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—mengembalikan pinjaman dengan yang lebih baik, dan menambahnya. Beliau bersabda, "Berikan padanya, karena sebaik-baik manusia adalah yang paling baik dalam mengembalikan pinjaman." [HR. Ibnu Mâjah]. Beliau tidak pernah meninggalkan pemilik hutang melainkan orang itu dalam keadaan lega.

4. Berlapang dada terhadap rekan bisnis.

Rekan Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—dalam berdagang sebelum beliau diutus menjadi nabi, yaitu As-Sâ'ib ibnu Abdullah mengakui hal ini ketika ia berkata kepada beliau, "Engkau adalah rekanku di zaman Jahiliyah dan engkau adalah sebaik-baik rekan. Engkau tak pernah menentangku atau berdebat denganku." [HR. Ibnu Mâjah]. Maksudnya, engkau tidak pernah menentangku dalam suatu urusan, dan tidak juga mendebatku. Hal ini tak pernah ia lupakan, sehingga menjadi sebab cintanya terhadap beliau. Akhlak yang demikian ini juga menjadi sebab keselamatan pelakunya dari api Neraka. Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Diharamkan dari api Neraka setiap orang yang bersifat ringan, lemah lembut, mudah, dan dekat dengan manusia." [HR. Ahmad]

5. Meringankan kesusahan orang lain.

Seorang yang memiliki sifat lapang dada tidak mau menjerumuskan orang lain ke dalam kesusahan. Dia tidak disibukkan oleh pikiran tentang hak-haknya dari memikirkan kewajibannya, berkat sifat lapang dada terhadap saudara-saudaranya serta penghormatannya terhadap kondsisi mereka. dalam sebuah riwayat shahîh disebutkan, "Bahwa seorang shahabat, Abul Yusr—Semoga Allah meridhainya—memiliki piutang pada seseorang. Ketika ia berangkat untuk menagih haknya, orang yang berhutang itu bersembunyi di dalam rumahnya, supaya tidak bertemu dengan Abul Yusr, karena ia tidak memiliki uang untuk membayar hutangnya. Ketika Abul Yusr tahu bahwa temannya itu bersembunyi, karena malu bertemu dengannya, lantaran tidak memiliki uang untuk membayar hutangnya, maka ia pun datang membawa lembaran piutang tersebut dan menghapus tulisannya, lalu berkata, 'Kalau kamu punya uang untuk membayar maka bayarlah, jika tidak maka kamu bebas (dari hutangmu)." [HR. Muslim]. Dengan kelapangan dadanya itu ia telah mengeluarkan saudaranya dari kesulitan berat.

6. Lapang dada terhadap orang yang menyakiti.

Sikap lapang dada yang paling besar adalah lapang dada terhadap orang yang menyakiti Anda. Hal itu sebagaimana yang terjadi pada Abu Bakar—Semoga Allah meridhainya—ketika ia telah bersumpah untuk tidak lagi menafkahi Masthah ibnu Utsâtsah lantaran ikut terlibat dalam Hadîtsul Ifki (kisah dusta/fitnah terhadap `Âisyah—Semoga Allah meridhainyayang disebarkan oleh orang-orang munafik). Kemudian Allah—Subhânahu wata`âlâ—memerintahkanya untuk memberi maaf. Maka diapun menebus kaffârat sumpahnya, dan kembali memberi nafkah Masthah ibnu Utsâtsah. Dalam hal ini Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Bersifat penyayanglah agar kalian dirahmati, dan maafkanlah agar kalian diampuni." (Shahîhul Jâmi`). Allah—Subhânahu wata`âlâ—juga menyifati hamba-hamba-Nya yang beriman bahwa mereka: "Ketika mereka dibuat marah, mereka segera memberi maaf." [QS. Asy-Syûrâ: 37]

7. Samâhah, antara tuduhan lemah atau berbuat dosa.

Terkadang syetan berbisik kepada seorang muslim, "Sungguh, kalau engkau berlapang dada, orang-orang akan menyebutmu sebagai orang yang lemah, dan mereka mengira engkau lemah." Padahal memilih dikatakan demikian lebih baik bagi Anda daripada terjatuh ke dalam perbuatan dosa, karena takut kepada manusia termasuk tindakan musyrik. Diriwayatkan dalam sebuah hadits, "Akan datang kepada kalian zaman di mana seseorang diberi pilihan antara disebut lemah atau berbuat dosa. Maka barang siapa yang menemukan zaman tersebut, hendaklah ia memilih disebut lemah daripada berbuat dosa." [HR. Ahmad]

Tetapi harus diperhatikan bahwa samâhah (lapang dada) di sini diperuntukkan bagi kaum muslimin yang melakukan kesalahan, sementara mereka tidak biasa melakukan hal itu. Adapun mereka yang selalu menzalimi orang lain, dan terus-menerus melakukan kezaliman itu, maka orang seperti itu harus dihadapi dengan pembelaan diri.

Beberapa Gambaran Perilaku yang Bertentangan dengan Sifat Lapang Dada

1.    Sering bermusuhan. Di antara perilaku yang bertentangan dengan sifat lapang dada adalah perilaku menjerumuskan diri ke dalam jurang kebohongan dan permusuhan. Karena jika Allah—Subhânahu wata`âlâ—mencintai sifat lapang dada, maka sesungguhnya, "Orang yang paling dibenci oleh Allah adalah al-aladdu (pendusta) dan orang yang suka bermusuhan." [HR. Al-Bukhâri]. Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bâri berkata, "Al-Aladdu (dalam teks hadits di atas) berarti pendusta, seolah-olah hendak mengatakan bahwa orang yang banyak bermusuhan akan sering terjerumus ke dalam kebohongan."

Orang yang kehilangan sifat lapang dada, ia adalah orang yang buruk akhlaknya, dan sering terseret untuk berteriak dan cekcok, lantaran suatu perkara yang sebenarnya ia tahu itu salah, atau berdiri di atas pendapat yang tidak ia ketahui kebenarannya. Dalam sebuah hadits disebutkan, "Barang siapa yang berselisih demi membela kebatilan—sementara ia tahu bahwa hal itu batil—maka ia akan selalu berada di dalam kemurkaan Allah sampai ia meninggalkan itu." [HR. Abû Dâwud]. Dikatakan dalam sebuah ungkapan, "Tidak akan memperpanjang masalah sama sekali seorang yang mulia itu."

2.    Banyak berdebat. Akhlak samâhah menjadikan pemiliknya segera menarik diri ketika terjerumus dalam sebuah perdebatan. Hendaknya kita selalu mengingat bahwa mengetahui waktu malam Lailatul Qadar adalah sebuah kebaikan besar yang lenyap dari umat ini, hanya karena hilangnya ruh samâhah antara dua orang dari umat ini. Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Aku keluar untuk memberitahu kalian kapan waktu Lailatul Qadar. Lalu (aku melihat) fulan dan fulan saling berdebat sehingga akupun lupa (kapan waktu malam itu)." [HR. Al-Bukhâri]

Betapa sering umat ini terhalangi dari keberkahan, kenikmatan, dan kemenangan karena perselisihan yang terjadi di antara mereka. Bahkan salah satu sifat orang munafik yang paling mendasar adalah, "Apabila ia berselisih ia berbuat batil." [HR. Al-Bukhâri]

Sangat tidak layak bagi seorang yang memiliki sifat samâhah berperilaku keras kepala, berdebat, menyerang, dan berteriak, apalagi sampai berbuat fujûr dalam berselisih. Fujûr adalah menyeleweng dari kebenaran dan mencari-cari jalan untuk menolaknya. (Fathul Bârî). Sungguh perilaku yang sangat bertentangan dengan sifat samâhah apa yang kita lihat dari saudara-saudara kita yang terjerumus dalam perdebatan sepele lantaran masalah politik, problem pemikiran, prediksi masa depan, dll, lalu mereka bercerai-berai dan saling membenci. Awal semua ini tidak lain hanyalah semangat berdebat, sementara, "Tidaklah suatu kaum tersesat setelah mereka mendapat petunjuk, melainkan karena mereka diberikan sifat gemar berdebat." [HR. Ibnu Mâjah]

Untuk mendorong kaum muslimin supaya berlapang dada dalam berdialog, mampu melepaskan sebagian hak ketika terjadi perselisihan, dan agar tidak terjerumus ke dalam akibat buruk perdebatan, Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—menjanjikan sebuah rumah di dalam surga bagi orang yang merelakan hak miliknya. Beliau bersabda, "Aku memberi jaminan sebuah rumah di tengah-tengah surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, walaupun ia benar." [HR. Abû Dâwud]. Tidak mungkin sifat samâhah, atau melepaskan hak tersebut ada kecuali pada seseorang yang memang berada dalam posisi yang benar. Memang hal ini sangat berat, namun pahalanya juga besar.

3.    Banyak melakukan hal yang tidak bermanfaat. Di antara buah dari hilangnya ruh samâhah ini adalah umat kita menjadi umat yang belomba-lomba memamerkan lisan, sehingga menjadi umat yang gemar bicara, bukan umat yang gemar beramal. Mereka menyia-nyiakan waktu dalam hal yang tidak bermanfaat, dalam perdebatan, dan saling tarik ulur pendapat. Semuanya membela pendapat masing-masing. Sungguh di antara yang diharamkan oleh Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bagi umatnya adalah, "Mencegah (harta yang wajib ia tunaikan) dan menuntut (apa yang bukan haknya)." Beliau juga memakruhkan, "Banyak berbicara, banyak meminta, serta menyia-yiakan harta." [HR. Al-Bukhâri]

Beberapa Keadaan yang Mengharsukan Samâhah (Lapang Dada) di dalamnya

1.    Samâhah dalam berjihad. Tidak akan sempurna pahala seorang mujahid melainkan dengan sikap hati yang mudah dan samâhah. Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Perang itu ada dua macam: Adapun seorang yang mencari keridhaan Allah, menaati pemimpin, menafkahkan hartanya, mudah dalam berurusan dengan rekannya, menjauhi kerusakan, maka sesungguhnya tidurnya dan rampasan perangnya semuanya adalah pahala." Al-Bâji berkata, "Yang dimaksud dengan 'mudah dalam berurusan dengan rekannya' adalah menyetujui pendapat-pendapatnya selama merupakan ketaatan (kepada pemimpin), mengikuti keinginannya, dan tidak rakus dalam hal-hal yang menjadi milik bersama seperti nafkah atau pekerjaan."

Maka marilah kita meluangkan waktu, dan menjaga persaudaraan kita dengan menebarkan ruh samâhah di antara kita, mengikuti apa keinginan saudara kita demi mengutamakan sesuatu yang lebih mahal (persaudaraan).

2.    Samâhah terhadap pasangan (suami/istri). Dampak samâhah ini akan tampak dalam seluruh perilaku pemiliknya. Lihatlah Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—terhadap istrinya, Aisyah—Semoga Allah meridhainya—ketika ia (Aisyah) hendak menunaikah Haji dan Umrah, kemudian mengalami haidh, sehingga ia sangat bersedih karena tidak bisa menunaikah Umrah. Dia pun lalu menangis lantaran hal itu, dan berkata, "Orang-orang pulang dengan membawa (pahala) Haji dan Umrah, sementara aku pulang hanya dengan membawa Haji." Jâbir ibnu Abdullah berkata, "RasulullahShallallâhu `alaihi wasallamadalah seorang yang sangat mudah, sampai-sampai ketika Aisyah menginginkan apapun beliau selalu mengikuti keinginannya. Maka beliaupun mengutusnya pergi bersama Abdurrahmân ibnu Abu Bakar, berihram untuk Umrah dari Tan`îm." [HR. Muslim]. An-Nawawi berkata: "Mudah berarti perangainya mudah (tidak suka mempersulit), berakhlak mulia, lemah lembut, dan mudah dalam akhlaknya." Sungguh besar samâhah Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—terhadap istrinya di tempat yang sangat padat ini, dan dalam keadaan musafir.

3.    Samâhah terhadap orang yang didakwahi. Renungkanlah samâhah Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—dalam dakwah beliau. Ketika beliau mencium bau bawang putih di dalam masjid, beliau pun melarang para shahabat untuk masuk masjid sebelum bau bawang putih hilang darinya. Orang yang dimaksudkan oleh larangan tersebut ketika itu adalah Al-Mughîrah ibnu Syu`bah—Semoga Allah meridhainya—. Dia berkata, "Aku pun mendatangi beliau dan berkata, 'Wahai Rasulullah, sungguh aku punya alasan (mengapa makan bawang putih). Berikan kepadaku tangan Anda." Dia (Al-Mughîrah) berkata, "Demi Allah, aku mendapatkan beliau sangat lapang dada. Beliau pun memberikan kepadaku tangannya, lalu aku masukkan tangan beliau ke dalam lengan bajuku sampai dadaku, hingga beliau menemukan bahwa badanku berbalut perban. Lalu beliau bersabda, 'Kamu memang memiliki udzur." Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—pun memaafkannya setelah mendapatakan bahwa ia makan bawang putih karena sakit.

Betapa kita butuh untuk meneladani beliau dalam sifat samâhah terhadap orang-orang yang kita dakwahi, supaya kita menjadi dai yang membawa kabar gembira, tidak membuat orang lari dari agama; menjadi dai yang memudahkan urusan, bukan yang mempersulit.

4.    Hubungan antara kesabaran dan samâhah. Sesungguhnya di antara definisi Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—terhadap iman adalah sebagaimana sabda beliau, "Iman itu adalah sabar dan samâhah." (Shahîhul Jâmi`). Beliau mendefinisikan iman sebagai interaksi yang baik terhadap Khaliq dan terhadap makhluk. Dari sini sepertinya yang beliau maksud dengan sabar dalam hadits di atas adalah hubungan hamba dengan Rabbnya, yaitu kesabaran dalam menaati-Nya, kesabaran dalam menjauhi maksiat, dan kesabaran dalam menjalani takdir-Nya. Sementara yang beliau maksud dengan samâhah adalah hubungan hamba dengan saudaranya, yang di dalamnya lebih didominasi oleh sifat memudahkan, meringankan, lapang dada, menerima penambahan dan pengurangan dengan tujuan untuk meraih ridha Allah dan dalam hal yang diridhai Allah. Barangkali hikmah penggabungan kesabaran dan samâhah tersebut adalah bahwa samâhah mengharuskan kesabaran yang besar dan kekuatan menanggung beban. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman (yang artinya): "Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." [QS. Asy-Syûrâ: 43]. Maka jadilah kita seorang yang lapang dada dalam berinteraksi dan berdakwah, lapang dada dalam berdialog atau berteman, lapang dada apabila dizalimi atau ditipu. Karena agama kita adalah agama yang lurus dan toleran.

Sumber: Inilah Akhlak kita, karya Al-Khazindar—Semoga Allah merahmatinya.

 

 

Artikel Terkait