Islam Web

Artikel

  1. Home
  2. Ringkasan Ajaran Islam

Syukur; Pengikat Nikmat

Syukur; Pengikat Nikmat

Allah Maha Berterima Kasih

"Sesungguhnya Allah lebih berhak disebut 'pandai bersyukur' daripada semua orang yang bersyukur. Bahkan Allah-lah Dzat Yang pandai bersyukur (berterima kasih) dalam maknanya yang hakiki. Sebab Allah selalu memberi hamba-Nya, serta memudahkannya untuk melakukan amalan-amalan yang membuat Allah berterima kasih kepadanya. Allah senantiasa mensyukuri setiap amalan dan pemberian walaupun sedikit, dan Dia tidak pernah menganggapnya sedikit untuk disyukuri. Allah mensyukuri setiap kebaikan hamba-Nya dengan memberi balasan sepuluh kali lipat bahkan lebih dari itu. Allah berterima kasih kepada hamba-Nya dengan cara memujinya di hadapan para Malaikat-Nya di atas singgasana-Nya, serta berterima kasih kepadanya di hadapan para hamba-Nya. Allah bahkan berterima kasih kepada hamba-Nya dengan perbuatan-Nya; Apabila seorang hamba meninggalkan sesuatu karena-Nya, Allah akan mengganti sesuatu itu dengan yang lebih baik; Apabila sang hamba menyumbangkan sesuatu, Allah akan menggantinya dengan balasan yang berlipat ganda. Padahal Allah-lah yang memberikan taufik kepada hamba itu untuk meninggalkan sesuatu atau menyumbangkan sesuatu. Tapi Allah tetap berterima kasih atas perbuatan itu.

Ketika Nabi Sulaiman menyembelih kudanya karena marah kepada kuda tersebut yang telah menyibukkannya dari berzikir, sehingga ia tidak ingin lagi disibukkan oleh kuda itu, Allah lalu menggantinya dengan kendaraan dari angin.

Ketika para shahabat meninggalkan negeri kelahiran mereka, berhijrah untuk mendapatkan ridha Allah, Allah mengganti semua pengorbanan itu dengan kesuksesan mereka menguasai dunia dengan menaklukan semua imperium.

Ketika Nabi Yusuf bersabar menahan derita penjara, Allah berterima kasih kepadanya dengan membuatnya berkuasa, sehingga ia bisa berbuat sekehendaknya.

Ketika para syuhada mengorbankan nyawa mereka untuk Allah hingga badan mereka dikoyak-koyak oleh musuh, Allah berterima kasih kepada mereka dengan menjadikan burung hijau sebagai tempat bersemayam ruh-ruh mereka di Surga, sehingga mereka dapat mendatangi sungai-sungai Surga dan memakan tanamannya sampai Hari Berbangkit, lalu ruh itu dikembalikan lagi kepada mereka dengan bentuk yang lebih sempurna, lebih indah, dan lebih menakjubkan.

Ketika para nabi merelakan nama baik mereka dicela oleh musuh-musuh mereka, Allah menggantinya dengan memberikan shalawat dari Allah dan para Malaikat-Nya, memberi mereka pujian paling mulia di langit dan di hadapan para makhluk-Nya, serta menjadikan mereka sebagai manusia-manusia pilihan.

Bentuk lain dari syukur dan terima kasih Allah adalah kepemurahan-Nya memberi imbalan di dunia kepada musuh-musuh-Nya atas perbuatan baik yang mereka lakukan, serta meringankan azab mereka di Akhirat. Allah tidak pernah mengabaikan satu perbuatan baik pun, walaupun dari musuh-Nya.

Allah mengampuni seorang wanita pelacur hanya karena jasanya memberi minum seekor anjing yang sangat kehausan hingga harus memakan tanah. Allah juga mengampuni seorang laki-laki yang membuang duri dari jalan kaum muslimin.

Allah berterima kasih kepada setiap hamba yang melakukan kebaikan untuk dirinya sendiri, sementara manusia hanya berterima kasih terhadap orang yang berbuat baik kepadanya. Lebih menakjubkan lagi bila disadari bahwa Allah-lah yang telah memberi para hamba-Nya segala sarana untuk berbuat baik kepada dirinya sendiri. Allah mensyukuri sedikit kebaikan para hamba-Nya dengan balasan berlipat ganda, tidak bisa dibandingkan dengan kebaikan yang telah dilakukannya. Allah-lah Dzat Yang Mahamulia, Dia memberikan sesuatu, lalu Dia yang berterima kasih. Maka siapakah yang lebih berhak disebut sebagai yang paling bersyukur?

Bentuk lain dari terima kasih Allah adalah dengan mengeluarkan para hamba-Nya yang beriman dari Neraka hanya karena sedikit kebaikan yang telah mereka lakukan, karena Allah tidak pernah menyia-nyiakan kebaikan apa pun.

Bila seorang hamba melakukan sesuatu yang Allah sukai di tengah masyarakatnya, Allah juga berterima kasih kepadanya dengan memujinya, menyebut-nyebutnya, serta menceritakannya kepada para Malaikat-Nya dan hamba-hamba-Nya yang beriman. Itulah yang dilakukan Allah kepada seorang keluarga Fir`aun yang beriman. Allah memujinya serta menyebut-nyebutnya di hadapan para hamba-Nya. Begitu juga dengan seorang laki-laki yang diceritakan di dalam surat Yâsîn, Allah berterima kasih kepadanya atas dakwah yang dilakukannya. Ya, tidak ada yang akan celaka hidup di antara syukur dan ampunan-Nya kecuali orang-orang yang benar-benar celaka." [Kitab `Uddatush Shâbirîn wa Dzakhîratusy Syâkirîn, karya Ibnul Qayyim, Hal. 279-280]

Makna dan Rukun-rukun Syukur

Syukur adalah pujian kepada Pemberi Nikmat atas kebaikan yang diberikan-Nya. Syukur seorang hamba memiliki tiga rukun. Rasa sukurnya tidak akan sempurna kecuali dengan terpenuhinya tiga rukun itu, yaitu:

1. Mengakui di dalam batin akan adanya nikmat;

2. Menceritakan (menyebut-nyebut) nikmat itu secara lahir;

3. Menjadikannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Artinya, syukur berkaitan dengan hati, lisan, dan anggota tubuh. Hati untuk mengetahui dan mencintai, lisan untuk memuji, dan anggota badan untuk mentaati Dzat Yang Disyukuri, serta meninggalkan maksiat kepada-Nya.

Keutamaan Syukur

Di dalam Al-Quran, Allah menyebutkan syukur secara bergandengan dengan keimanan, sekaligus mengabarkan bahwa Allah tidak akan mengazab hamba-hamba-Nya jika mereka bersyukur dan beriman. Hal itu tercantum dalam firman–Nya (yang artinya): "Mengapa Allah akan menyiksa kalian jika kalian bersyukur dan beriman?" [QS. An-Nisâ': 147]. Maksudnya, jika kalian telah mewujudkan tujuan dari penciptaan kalian yaitu bersyukur dan beriman, untuk apa aku mengazab kalian?!

Allah juga mengabarkan bahwa orang-orang yang bersyukur merupakan orang-orang pilihan yang berhak mendapatkan anugerah-Nya. Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—berfirman (yang artinya): "Dan demikianlah telah Kami uji sebagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebagian yang lain (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: 'Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?' (Allah berfirman): 'Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?'." [QS. Al-An`âm: 53]

Allah juga telah membagi manusia kepada dua bagian: orang-orang yang bersyukur dan orang-orang yang kufur. Perkara yang paling dimurkai oleh Allah adalah kekufuran dan para pengikutnya, dan perkara yang paling dicintai Allah adalah syukur dan para pengikutnya. Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—berfirman (yang artinya):

· "Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir." [QS. Al-Insân: 3];

· "Ia (Sulaiman) pun berkata: 'Ini adalah karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya ia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barang siapa yang ingkar sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Maha Pemurah'." [QS. An-Naml: 40];

· "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: 'Sesungguhnya jika kalian bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku) sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'." [QS. Ibrâhîm: 7]

Allah mengaitkan penambahan nikmat dengan syukur. Dan tambahan nikmat Allah tiada memiliki batas, sebagaimana rasa syukur juga tiada batasnya.

Banyak juga kita temukan di dalam Al-Quran betapa Allah mengaitkan balasan dengan kehendak-Nya. Misalnya dalam firman-Nya (yang artinya):

· "Maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepada kalian dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki." [QS. At-Taubah: 28];

· Dalam hal pengabulan doa: "Maka Dia akan menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki." [QS. Al-An`âm: 41];

· Dalam permasalahan rezki: "Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas." [QS. Al-Baqarah: 212];

· Dalam permasalahan tobat: "Dan Allah menerima tobat orang yang dikehendaki-Nya." [QS. At-Taubah: 15]

Tetapi khusus untuk balasan orang-orang yang bersyukur, Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—menyebutkannya secara mutlak, seperti dalam firman-Nya (yang artinya):

· "Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." [QS. Âli `Imrân: 145];

· "Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." [QS. Âli `Imrân: 144]

Ketika Iblis mengetahui tingginya kedudukan sifat syukur di sisi Allah, ia pun bercita-cita untuk memutuskan manusia dari sifat ini. Ia berkata, sebagaimana diceritakan dalam firman Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—(yang artinya): "Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Sehingga Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur." [QS. Al-A`râf: 17]

Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—juga telah menyebutkan bahwa sangat sedikit dari hamba-hamba-Nya yang bersyukur, sebagaimana disebutkan dalam firman–Nya (yang artinya): "Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur." [QS. Saba': 13]

Dan dalam ayat lain, Allah memuji Nabi Nuh karena sifat syukurnya. Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—berfirman (yang artinya): "(Yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya ia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur." [QS. Al-Isrâ': 3]

Penyebutan Nabi Nuh secara khusus di dalam ayat ini, dan pernyataan bahwa semua manusia merupakan keturunannya adalah isyarat agar kita meneladaninya, sebab ia merupakan bapak manusia kedua (setelah Adam). Karena Allah tidak menyisakan satu pun keturunan manusia setelah banjir besar ketika itu kecuali berasal dari keturunannya. Sebagaimana firman Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—(yang artinya): "Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan." [QS. Ash-Shaffât: 77]. Lalu Allah menyuruh keturunan ini untuk meneladani bapak mereka dalam bersyukur kepada Allah, sebab ia adalah hamba yang banyak bersyukur.

Di tempat lain, Allah juga mengabarkan bahwa hanya orang-orang yang bisa bersyukur kepada-Nya-lah yang menyembah-Nya, sehingga siapa yang tidak bisa bersyukur berarti bukan termasuk orang yang menyembah-Nya. Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—berfirman (yang artinya): "Dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kalian menyembah." [QS. Al-Baqarah: 172]

Allah juga mengabarkan bahwa keridhaan-Nya diberikan kepada orang-orang yang bersyukur, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya (yang artinya): "Dan jika kalian bersyukur niscaya Dia akan meridhai kalian (karena) kesyukuran itu." [QS. Az-Zumar: 7]

Allah juga memuji Khalîlullâh, Ibrahim—`Alaihis salâm—karena ia mensyukuri nikmat-Nya, sebagaimana tercantum dalam firman-Nya (yang artinya): "Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanîf. Dan sekali-kali bukanlah ia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan). Ia mensyukuri nikmat-nikmat Allah, dan Allah telah memilihnya serta menunjukinya kepada jalan yang lurus." [QS. An-Nahl: 120-121]

Allah menyatakan bahwa Ibrahim merupakan "umat", artinya suri teladan yang dijadikan contoh dalam kebaikan. Hanîf artinya menghadap kepada Allah dan berpaling dari selain-Nya. Allah menutup penyebutan semua sifat Ibrahim ini dengan menyebutkan bahwa ia senantiasa bersyukur kepada-Nya. Artinya, Allah menjadikan sifat syukur sebagai sifat utama kekasih Allah ini.

Dalam ayat lain, Allah mengabarkan bahwa syukur merupakan tujuan penciptaan makhluk-Nya, bahkan tujuan dari penciptaan para hamba-Nya secara khusus. Hal itu disebutkan oleh Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—dalam firman-Nya (yang artinya): "Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kalian pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kalian bersyukur." [QS. An-Nahl: 78]

Di dalam sebuah hadits shahîh disebutkan bahwa Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wa sallam—melakukan Shalat Malam sampai kedua kaki beliau bengkak. Lalu dikatakan kepada beliau, "Kenapa engkau masih melakukan hal ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu, baik yang telah berlalu maupun yang akan datang?" Beliau menjawab, "Tidak pantaskah jika aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?!" [HR. Al-Bukhâri dan Muslim]

Dalam hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—berkata kepada Mu`adz, "Demi Allah, aku mencintaimu. Janganlah engkau lupa di akhir setiap shalatmu untuk mengucapkan: 'Ya Allah, bantulah aku untuk selalu berzikir, bersyukur, dan beribadah dengan baik kepada-Mu." [HR. Abu Dâwûd]

Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wa sallam—juga pernah bersabda, "Sesungguhnya Allah betul-betul ridha terhadap seorang hamba yang jika ia makan selalu memuji Allah dan jika ia minum juga selalu memuji-Nya." [HR. Muslim]. Syukur ternyata mampu mengundang balasan yang luar biasa ini, karena ridha Allah merupakan balasan yang paling besar, sebagaimana dinyatakan oleh Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—dalam firman-Nya (yang artinya): "Dan keridhaan Allah adalah lebih besar." [QS. At-Taubah: 72].

Syukur merupakan pengikat nikmat dan penyebab bertambahnya rezeki, sebagaimana kata Umar ibnu Abdul Aziz, "Ikatlah nikmat Allah dengan bersyukur kepada-Nya."

Ibnu Abid Dunya meriwayatkan bahwa Ali ibnu Abi Thâlib—Semoga Allah meridhainya—pernah berkata kepada seorang laki-laki dari suku Hamdzân, "Sesungguhnya nikmat itu berkaitan dengan rasa syukur, dan rasa syukur berhubungan dengan bertambahnya nikmat. Keduanya akan saling bergandengan. Tambahan rezeki dari Allah tidak akan pernah terputus sampai terputusnya rasa syukur seorang hamba."

Hubungan Antara Syukur dan Sabar

Ibnu Hajar—semoga Allah merahmatinya—berkata, "Syukur itu mencakup sabar dalam ketaaatan dan sabar dari melakukan maksiat (dosa). Sebagian ulama mengatakan, 'Sabar itu menuntut adanya syukur, dan tidak akan sempurna (kesabaran) kecuali dengan adanya syukur itu, begitu juga sebaliknya. Artinya, apabila salah satunya hilang yang kedua pun akan pergi'. Barang siapa yang berada dalam kenikmatan maka ia wajib bersyukur dan bersabar. Adapun syukur tentu sudah jelas, sedangkan sabar adalah sabar menahan diri dari maksiat (dengan nikmat itu). Sedangkan orang yang berada dalam musibah wajib bersabar dan bersyukur. Adapun sabar tentu sudah jelas, sedangkan syukur adalah dengan melaksanakan hak-hak Allah ketika ditimpa musibah itu. Karena ketika ditimpa musibah, ada ibadah yang harus dipersembahkan kepada Allah, sebagaimana ada ibadah yang dituntut ketika berada dalam kenikmatan."

Syukur Anggota Badan

Seorang laki-laki berkata kepada Abu Hâzim: "Apa bentuk syukur kedua mata, wahai Abu Hâzim?" Ia menjawab, "Apabila engkau melihat kebaikan, engkau membukanya, dan apabila engkau melihat keburukan, engkau menutupnya." Lelaki itu bertanya lagi, "Apa bentuk syukur kedua telinga?" Ia menjawab, "Apabila engkau mendengar kebaikan, engkau menyimaknya, dan apabila engkau mendengar keburukan, engkau menolaknya." Lelaki itu kembali bertanya, "Apa bentuk syukur kedua tangan?" Ia menjawab, "Jangan engkau gunakan ia untuk mengambil barang yang bukan haknya. Dan penuhilah hak Allah yang ada pada keduanya." Lelaki itu bertanya lagi, "Lalu bagaimana syukur perut?" Ia menjawab, "Dengan mengisi ruang di bawahnya dengan makanan dan ruang di atasnya dengan ilmu." Lelaki itu kembali bertanya, "Dan apa bentuk syukur kemaluan?" Ia menjawab dengan membacakan ayat (yang artinya): "Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas." [QS. Al-Ma`ârij: 29-31]. Lelaki itu melanjutkan pertanyaannya, "Apa bentuk syukur kedua kaki?" Abu Hâzim menjawab, "Jika engkau mengenal seseorang yang shalih meninggal dunia, gunakan kedua kakimu untuk meneladani amal perbuatannya. Dan jika engkau mengetahui orang yang tidak baik meninggal dunia, segera jauhi amal-amal yang ia kerjakan sambil bersyukur kepada Allah. Sesungguhnya orang yang hanya bersyukur dengan lidahnya tapi tidak bersyukur dengan semua anggota badannya ibarat seseorang yang memiliki pakaian tetapi ia hanya memegang ujungnya dan tidak memakainya. Sehingga ia pun tidak terlindungi dari panas, dingin, salju, dan hujan."

Apa Kata Ulama Salaf tentang Syukur

Al-Hasan mengatakan, "Perbanyaklah menyebut nikmat-nikmat ini, karena sesungguhnya menyebutnya merupakan bentuk rasa syukur. Sebab Allah telah menyuruh Nabi-Nya untuk menyebut-nyebut nikmat Tuhannya. AllahSubhânahu wa Ta`âlâberfirman (yang artinya): "Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah engkau menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)." [QS. Adh-Dhuha: 11]. Dan Allah senang apabila seorang hamba menampakkan pengaruh nikmat Allah pada dirinya, karena ini merupakan bentuk syukur dengan perbuatan."

Abul Mughîrah, apabila dikatakan kepadanya: "Bagaimana keadaanmu pagi ini?", ia biasa menjawab: "Pagi ini kami tenggelam dalam nikmat-nikmat, tetapi lemah dalam bersyukur. Tuhan kami telah memperlihatkan cinta-Nya kepada kami walaupun Dia tidak membutuhkan kami, tapi kami seakan menampakkan kebencian kepada-Nya (dengan sedikit bersyukur) padahal kami butuh kepada-Nya."

Syuraih berkata, "Tidaklah seorang hamba ditimpa oleh suatu musibah kecuali Allah memberikan kepadanya tiga nikmat dalam musibah itu: (Pertama), musibah itu tidak berkaitan dengan Agamanya; (Kedua), musibah itu tidak lebih besar daripada apa yang telah ada; (Ketiga) musibah itu memang mesti terjadi dan kini ia telah terjadi (berarti sudah selesai)."

Ketika menafsirkan ayat (yang artinya): "Kelak Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui." [QS. Al-Qalam: 44], Sufyan berkata, "Maksudnya, Allah melimpahkan kepada mereka berbagai nikmat tetapi mereka tidak diberikan kemampuan bersyukur."

Tokoh lain mengatakan bahwa maksud ayat ini adalah: "Setiap kali mereka melakukan perbuatan dosa, Allah memberikan nikmat kepada mereka."

Seorang ulama pernah menuliskan untuk saudaranya kalimat-kalimat berikut: "Sungguh kita telah mendapatkan begitu banyak nikmat-nikmat Allah yang tidak mungkin dihitung, sedangkan maksiat yang telah kita lakukan juga demikian banyak. Sehingga kita tidak tahu mana yang harus kita syukuri, apakah nikmat yang telah dimudahkan-Nya untuk kita ataukah kejelekan-kejelekan (dosa) kita yang telah ditutupi-Nya?!"

Yunus ibnu 'Ubaid menceritakan bahwa suatu ketika, seseorang berkata kepada Abu Tamîmah, "Bagaimana keadaanmu pagi ini?" Ia menjawab, "Pagi ini aku berada di antara dua nikmat yang aku tidak tahu mana yang lebih besar: (Pertama), dosa-dosaku yang telah Allah tutupi sehingga tidak ada orang yang mampu mencela diriku dengannya; (kedua), rasa cinta yang Allah tanamkan di hati para hamba terhadapku yang itu tidak bisa diraih dengan amal-amalku sendiri."

Al-Hasan berkata, "Tidaklah Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba lalu ia mengatakan 'Alhamdulillâh', melainkan apa yang ia berikan lebih banyak daripada apa yang ia ambil."

Ibnul Qayyim mengatakan, "Mengucapkan 'Alhamdulillâh' merupakan nikmat Allah, dan nikmat yang diucapkan syukur untuknya itu juga adalah nikmat dari Allah. Sebagian nikmat lebih mulia dari nikmat yang lain; nikmat syukur lebih mulia dari nikmat harta, kedudukan, anak, istri, dan lain-lain. Wallâhu a`lam."

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bersyukur.

Artikel Terkait