Islam Web

Artikel

  1. Home
  2. Artikel
  3. POKOK BAHASAN
  4. Islam
  5. Puasa

Mengenang Perang Hittin; Bangkitlah Shalahuddin!

Mengenang Perang Hittin; Bangkitlah Shalahuddin!

Oleh: Abul Haitsam Muhammad Darwisy

Dengan nama Allah kita mulai dan di atas petunjuk Rasul-Nya kita melangkah.

Bulan penuh kebaikan telah datang. Kaum muslimin bergembira, dan rumah-rumah pun berlimpah keberkatan. Jalan-jalan penuh dengan lantunan shalawat yang suci. Mesjid-mesjid penuh dengan jemaah shalat di waktu Subuh. Jalan-jalan juga menggemakan ayat-ayat kebenaran, diliputi cahaya lantunan ayat Al-Quran dari mulut para imam shalat Tarawih. Anak-anak meramaikan jalanan dengan nyanyian dan nasyid, tanda gembira dengan kedatangan bulan Allah yang agung, Ramadhan.

Dalam berinteraksi dengan Ramadhan, manusia terbagi kepada tiga golongan: Golongan pertama beramal seperti amal generasi salafush shâlih; Golongan kedua berusaha melakukan amal kebaikan dengan kadar yang sedang, sembari mengharapkan ampunan dari Allah; Dan golongan ketiga tenggelam dalam kelalaian. Ramadhan di matanya tidak lebih dari sekedar bulan teka-teki.

Di belahan bumi yang dekat dengan kita, di jantung dan urat nadi Umat, peristiwa memilukan terus terjadi. Setiap hari, di sana darah syahid selalu tumpah. Anak melepas kepergian bapaknya ke tempat yang jauh, alam yang tidak ia ketahui hakikatnya, tempat yang kekal bagi sang bapak tercinta. Istri melepas kepergian suaminya tercinta, sembari mengharapkan pertemuan sesaat lagi di alam tempat ia tidak akan diabaikan oleh tetangga dan sanak saudaranya, tempat ia tidak lagi akan diancam oleh babi-babi yang menakutkan. Ibu melepas kepergian bayi atau anaknya akibat tembakan-tembakan berdarah dari dada yang penuh amarah dan dengki kepada segala sesuatu yang terkait dengan Islam dan kaum muslimin.

Di Mesjid Al-Aqsha tercinta, mutiara dan buah hati Umat ini, bagaimanakah gerangan suasana Ramadhan? Bagaimana saudara-saudara terkasih di sana menjalani bulan ini? Apakah mereka menjalaninya dengan kebahagiaan seperti kita dan kerabat kita? Ataukah mereka menjalaninya dengan kesedihan karena ketidakpedulian dan sikap diam Umat ini? Bagaimana keadaan saudara-saudara kita seagama di sana? Mereka yang menghadap ke Kiblat yang sama dengan kita, shalat seperti kita, membaca Al-Quran kita, mengikuti ajaran Rasul kita, dan menyembah Tuhan kita—Subhânahu wata`âlâ.

Bagaimanakah keadaan ibu-ibu kita di kota Al-Quds? Bagaimanakah keadaan bapak-bapak kita di sana? Bagaimana gerangan saudara-saudara kita bersama anak-anak mereka yang juga adalah anak-anak kita di sana?

Kita sering mendengar rintihan saudara-saudara kita di sana pada bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya. Kaum zionis tidak pernah menghormati kesucian bulan, tempat, dan waktu. Cukuplah menjadi dosa bagi mereka ketika mereka mencela dan mencaci Tuhan seluruh makhluk.

Manakah Al-Mu`tashim yang dahulu mendengar teriakan dari mulut seorang wanita suci yang dipaksa musuh melepaskan pakaiannya di penjara?

Wahai Shalahuddin, namamu harum memenuhi hati-hati yang dahaga dengan memori kemenangan di zaman ketidakpedulian ini. Saya ingin memenuhi dunia ini dengan gemuruh teriakan memanggilmu. Siapa tahu engkau akan datang untuk mengembalikan kehormatan Umatmu yang telah dirampas ini. Namun, itu mustahil. Mustahil teriakan dan seruanku bisa mengembalikanmu. Karena sudah menjadi sunnatullah pada makhluk-Nya, bahwa yang telah mati tidak akan hidup lagi. Namun harapan itu masih ada, karena kami tidak bergantung kepadamu, akan tetapi kepada Penciptamu yang pasti mampu mengaruniakan kepada kami manusia sepertimu. Meskipun pada saat ini, pasti tidak ada manusia yang sepertimu.

Karena itu, aku tidak lagi akan memanggilmu, wahai Shalahuddin. Sekarang permohonan dan seruanku aku arahkan kepada Tuhan semesta alam. Ya Allah, kami kadukan kepada-Mu kelemahan kami dan kerdilnya kekuatan kami. Engkau adalah Tuhan orang-orang yang lemah, dan Engkau adalah Tuhan kami. Ya Allah, takdirkanlah kemenangan untuk Umat ini; sehingga di dalamnya orang-orang yang taat menjadi terhormat, para pelaku maksiat menjadi terhina, segala kebaikan diperintahkan, dan segala kemungkaran dicegah. Ya Allah, tolonglah hamba-hamba-Mu yang berjihad di jalan-Mu diseluruh penjuru bumi ini, dari timur hingga barat. Ya Allah, sucikanlah seluruh jagad raya yang penuh gelimang darah kaum muslimin dari orang-orang yang menumpahkannya.

Saudaraku, pada bulan Ramadhan, hati-hati menjadi lembut dan semakin dekat kepada Allah, Dzat yang mengetahui segala yang gaib. Jangan sampai limpahan rahmat Allah, nikmat berkumpul dengan sesama, dan karunia hidangan lezat di bulan ini melalaikan Anda dari usaha menolong saudara-saudara Anda dengan apa pun yang Anda miliki, dengan barang berharga yang Anda punya. Jangan sampai Anda melupakan bait-bait doa untuk mereka. Karena doa adalah senjata yang berkilau. Sesungguhnya orang yang tidak mau berderma dengan doa niscaya tidak akan pernah rela berderma dengan darahnya.

Saudaraku, kenangan perang Badar, Hittin, `Ain Jalut, serta kemenangan-kemenangan gemilang lainnya yang pernah ditorehkan oleh Umat ini mengingatkan kita kepada para ksatria yang jantan itu. Mengapa kita tidak bisa menjadi ksatria yang jantan? Realita kita menyatakan bahwa kita hanyalah laki-laki belaka, bukan ksatria yang jantan. Karena para kesatria memiliki prestasi, sedangkan kita hanyalah manusia yang pandai berbicara.

Saudaraku, angin kemenangan dan perubahan telah bertiup. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman (yang artinya): "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." [QS. Ar-Semoga Allah meridhainya`d: 11]

Marilah menjadi laksana kumpulan lebah yang terus bekerja dengan ilmu, dakwah, serta jihad dengan harta dan jiwa bagi yang mampu, tanpa pernah lemah dan bosan. Betapa mulianya amal menebarkan Tauhid pada zaman di mana ilmu dan ulama begitu sedikit, di mana orang-orang bodoh dan zalim berkuasa.

Mencari ilmu adalah wajib, berdakwah juga fardhu, berjihad dengan apa yang kita mampu juga demikian. Jihad paling minim yang bisa kita lakukan adalah berdoa, menunjukkan solidaritas walau hanya dengan lidah, serta mengingatkan manusia-manusia yang lalai. Bila itu pun tidak bisa kita berikan, sungguh yang ada hanyalah dosa dan kelalaian yang begitu pahit.

Mari kita menjadi batu bata pertama untuk membentuk Shalahuddin yang baru, dari rumah saya dan rumah Anda. Barangkali ia adalah anak saya, atau barangkali anak Anda. Alangkah besar amanah yang barangkali telah kita sia-siakan. Sungguh, ini adalah tanggung jawab. Iya, tanggung jawab!

Wahai umat Islam, sadarlah! Jadikanlah Ramadhan sebagai kesempatan untuk memperbarui janji yang telah diikat Allah dengan kita pada saat kita masih berada di tulang sulbi bapak-bapak kita. Sebuah janji yang demikian kuat.

Mari kita jadikan Ramadhan sebagai awal untuk membangun generasi baru yang mengembalikan senyuman ke wajah-wajah saudara kita di sekitar Mesjid Al-Aqsha tercinta, dan di seluruh tanah yang telah dirampas musuh. Mari mulai membangun generasi seperti Khâlid ibnul Walîd, Shalahuddin, Quthuz, Izz ibnu Abdis salâm, Umar Mukhtar, dan pahlawan-pahlawan terbaik lainnya yang pernah dilahirkan oleh Umat ini.

Ya Allah, karuniakan kepada kami kemenangan yang telah Engkau janjikan. Ya Allah, sesungguhnya kami mengakui kelalaian kami. Janganlah siksa kami karena kelemahan kami dan karena perbuatan orang-orang yang bodoh di antara kami. Ya Allah, ubahlah kelemahan dan kehinaan yang ada di sekitar kami. Gantilah ia dengan kekuatan, kehormatan, dan kemenangan dari-Mu.

Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman (yang artinya):

o "Allah telah menetapkan: 'Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang'. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." [QS. Al-Mujâdalah: 21];

o "Dan Sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul. (Yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan dan sesungguhnya tentara Kami-lah yang pasti menang." [QS. Ash-Shâffât: 171-173];

o "Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui." [QS. Al-Munâfiqûn: 8]

Ya Allah, bantulah hamba-hamba-Mu yang berjihad di Palestina, Chechnya, Afganistan, Indonesia, Filipina, Kuba, Burma, dan di seluruh dunia, wahai Tuhan yang Maha Penyayang, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih.

Kita memohon kepada Allah, semoga pada Ramadhan yang akan datang kita berada dalam kondisi yang lebih baik. Âmîn.

Artikel Terkait