Abu Hanifah An-Nu'mân

11/03/2019| IslamWeb

Ia adalah seorang tokoh yang rajin beribadah, dan tidak tidur pada malam hari kecuali sedikit. Karena kerajinannya mendirikan shalat, ia sampai digelari dengan Al-Watad (pasak). Demikian takutnya kepada Allah, ia biasa menangis sampai suara tangisannya didengar oleh para tetangganya, sehingga mereka pun merasa kasihan kepadanya.

Bapaknya, Tsâbit adalah seorang saudagar kaya yang masuk Islam dan taat menjalankan Agama. Sebuah riwayat menceritakan bahwa Tsâbit bertemu dengan Imam Ali ibnu Abi Thâlib—Semoga Allah meridhainya, lalu Ali mendoakannya dan keturunannya agar dikaruniakan kebaikan dan keberkahan. Allah pun ternyata mengabulkan doa itu dan mengaruniakan kepada Tsâbit seorang anak yang ia namakan An-Nu'mân, dan ia beri panggilan Abu Hanifah, An-Nu'mân ibnu Tsâbit. An-Nu'mân dilahirkan pada tahun 80 H. di kota Kufah.

Abu Hanifah tumbuh besar di Kufah, kota kelahirannya. Di sana, ia menemukan berbagai halaqah ilmu bertebaran di mana-mana. Ia menyaksikan langsung para pencari ilmu belajar dan bersungguh-sungguh menuntut ilmu. Ia pun kemudian belajar dari satu guru ke guru yang lain, dari satu ulama besar ke ulama besar yang lain. Di antara guru-gurunya adalah: Hammâd ibnu Abi Sulaiman, Imam Ja'far Ash-Shâdiq, 'Athâ`, Imam Az-Zuhri, Qatâdah, dan ulama-ulama besar lainnya. Hammâd adalah guru yang paling ia cintai. Abu Hanifah sering menghafal dan mengulang-ulang kata-katanya. Hammâd pun sangat menyayanginya. Bahkan suatu ketika, Hammâd berkata kepada orang-orang yang ada di dalam majelisnya, "Tidak boleh duduk di sampingku di tengah halaqah selain Abu Hanifah."

Setelah meninggal, Hammâd digantikan oleh anaknya yang bernama Ismail untuk mengajar dalam halaqahnya. Akan tetapi Ismail tidak mengajarkan fikih, tapi beralih ke pelajaran Nahwu yang sangat ia sukai. Para pencari ilmu akhirnya menemui Abu Hanifah untuk memintanya membuat halaqah dan mengajarkan mereka hukum-hukum Agama. Abu Hanifah mengabulkan permintaan itu, lalu mengajarkan ilmu fikihnya kepada kaum muslimin. Fikihnya pun kemudian dikenal di semua kalangan, dari orang-orang awan hingga lingkungan kerajaan. Namun demikian, ia tidak melupakan jasa gurunya Hammâd, Ia selalu menyebut kebaikan sang guru dan mendoakannya. Bahkan Abu Hanifah berkata, "Tidaklah aku melakukan shalat melainkan selalu mendoakan guruku (Hammâd), dan setiap orang yang mengajarku atau aku ajarkan suatu ilmu."

Abu Hanifah sangat memperhatikan pakaian dan penampilannya. Ia selalu memakai parfum, serta tampil dengan tenang dan lembut. Ia adalah orang yang mengatakan, "Ya Allah, siapa merasa yang sempit dadanya untuk kami, sesungguhnya dada kami luas untuknya."

Suatu ketika, ada seseorang menghinanya dengan berkata, "Wahai pembuat bid'ah, wahai manusia zindiq." Abu Hanifah menjawab kata-kata orang itu dengan berucap, "Semoga Allah mengampunimu. Allah pasti mengetahui tentang diriku berbeda dengan apa yang engkau katakan. Sesungguhnya aku tidak pernah menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun sejak aku mengenal-Nya. Dan Aku tidaklah mengharapkan kecuali ampunan-Nya, dan tidak takut kecuali kepada siksaan-Nya."

Abu Hanifah adalah seorang yang pemurah dan dermawan. Sebagaimana ia juga merupakan sosok pedagang yang jujur dan mahir. Ia bekerja sebagai pedagang sepanjang hayatnya. Ia memiliki sebuah toko yang terkenal di kota Kufah. Ia suka bekerja untuk menafkahi hidupnya. Dan ia biasa menjual kain khizz, sejenis kain yang terbuat dari wol.

Suatu ketika, Abu Hanifah mendengar seseorang berkata kepada temannya, "Abu Hanifah itu tidak tidur pada malam hari." Abu Hanifah pun berkata, "Ya Allah, janganlah jadikan ia berbicara tentangku mengenai sesuatu yang tidak aku lakukan." Ia pun selalu menghidupkan malam dengan shalat dan munajat.

Abu Hanifah juga merupakan manusia yang wara' (sangat hati-hati). Ia tidak mau menyampaikan hadits yang ia hafal dan hadits yang tidak ia hafal. Ia enggan bersumpah karena takut celaka. Bahkan ia sampai berjanji kepada dirinya, bahwa jika ia bersumpah atas nama Allah untuk sesuatu yang benar sekalipun, ia akan bersedekah 1 dinar.

Abu Hanifah adalah pribadi yang lapang dada dan tenang dalam berbicara dengan orang lain. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa seseorang pernah berkata kepadanya, "Takutlah engkau kepada Allah!" Ia pun terkejut dan serta-merta menganggukkan kepalanya, kemudian berkata, "Saudaraku, semoga Allah membalasi apa yang engkau katakan dengan kebaikan. Alangkah butuhnya kita setiap saat kepada orang yang mengingatkan kita kepada Allah—Subhânahu wata`âlâ."

Abu Hanifah juga begitu takut tertimpa akibat perbuatan zalim (tidak adil). Karena itu, ia menolak tawaran menjadi qadhi (hakim) di bawah pemerintahan Abu Ja'far Al-Manshûr.

Abu Hanifah meninggal dunia pada tahun 150 H. Jenazahnya dishalatkan oleh 50.000 orang dan dikuburkan di Baghdad. Konon, Abu Hanifah wafat tepat pada malam lahirnya Imam Asy-Syafi'i.

Abu Hanifah adalah pendiri mazhab Hanafi, salah satu mazhab fikih yang empat. Mazhabnya tersebar di Irak, India, dan negeri-negeri Timur Islam. Imam Asy-Syafi'i berkata tentangnya, "Semua manusia berhutang dalam hal fikih kepada Abu Hanifah."

Nadhr ibnu Syamil berkata, "Kaum muslimin tidur dalam masalah fikih, sampai mereka dibangunkan oleh Abu Hanifah."

Seseorang juga pernah mengatakan, "Kalau ilmu Abu Hanifah ditimbang dengan ilmu orang-orang yang hidup pada masanya, niscaya ilmunya lebih berat."

Ibnul Mubârak berkata, "Aku tidak melihat seorang manusia pun seperti Abu Hanifah dalam masalah fikih."

Yazîd ibnu Hârûn juga pernah mengatakan, "Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih penyabar dan santun daripada Abu Hanifah."

[Sumber: Ensiklopedia Keluarga Muslim]

 

 

www.islamweb.net