Harapan adalah Eliksir Kehidupan

14/03/2019| IslamWeb

Saudaraku, mari renungkan bersama: Apakah yang mendorong para petani untuk bekerja dan memeras keringat? Jawabannya tentu adalah harapan untuk panen. Apakah yang menggoda para pedagang untuk melakukan perjalanan jauh menempuh bahaya, meninggalkan keluarga dan negerinya? Jawabannya tentu adalah harapan mendapatkan keuntungan. Apakah yang memotivasi seorang pelajar untuk bersusah payah dan tidak tidur pada malam hari untuk belajar? Jawabannya tentu adalah harapan meraih kelulusan. Apakah yang menggerakan seorang prajurit berjuang gagah berani di medan perang dan bersabar menahan kerasnya peperangan? Jawabannya tentu adalah harapan memperoleh kemenangan. Apakah yang membuat seorang yang sakit harus menyukai obat yang pahit? Jawabannya tentu adalah harapan untuk sembuh. Apakah yang memanggil seorang mukmin untuk melawan hawa nafsunya dan menaati Tuhannya? Jawabannya adalah harapan meraih ridha dan Surga Tuhannya.

Jadi, harapan adalah kekuatan yang melapangkan dada untuk bekerja, menciptakan dorongan untuk berusaha menjalankan kewajiban, membangkitkan semangat jiwa dan raga, mendorong seorang pemalas untuk bersungguh-sungguh, mendorong orang yang bersungguh-sungguh untuk tetap konsisten dalam kesungguhannya, sebagaimana juga mendorong orang yang gagal untuk terus mengulangi usahanya sampai ia berhasil, dan memotivasi seorang yang telah berhasil untuk melipatgandakan usaha agar bertambah sukses.

Harapan yang kita bincangkan di sini adalah lawan dari perasaan putus asa. Harapan mengandung makna kabar gembira dan optimisme, sementara putus asa tak ubahnya kapak penghancur yang meruntuhkan semangat berbuat yang ada di dalam jiwa, serta melemahkan unsur-unsur kekuatan di dalam tubuh. Oleh karena itu, Ibnu Mas'ûd—Radhiyallâhu `anhu—berkata, "Kehancuran itu terdapat dalam dua hal: putus asa dan kebanggaan terhadap diri sendiri." Imam Al-Ghazâli berkata, "Kedua hal itu digabungkan karena kebahagiaan tidak akan didapat kecuali dengan usaha, mencari, sungguh–sungguh, dan serius. Sementara orang yang putus asa tidak akan berusaha dan mencari, karena apa yang ia cari adalah mustahil dalam pandangannya."

Iman Membangkitkan Harapan dalam Jiwa

Ya, inilah realita yang terjadi, bahwa iman membangkitkan harapan di dalam jiwa serta mencegah datangnya keputusasaan. Seorang mukmin sejati meyakini bahwa segala urusan ada di tangan Allah—Subhânahu wata`âlâ, sehingga ia pun optimis dan berbaik sangka kepada Tuhannya, serta mengharap anugerah kebaikan dari sisi-Nya. Di hadapannya terpampang firman Allah—Subhânahu wata`âlâdalam sebuah hadits Qudsi: "Sesungguhnya Aku (akan berbuat terhadap hamba-Ku) sesuai dengan apa yang diyakini oleh hamba-Ku tentang-Ku…"

Bagaimana mungkin keputusasaan akan mengetuk jiwa seorang yang beriman, sementara ia selalu membaca firman Allah—Subhânahu wata`âlâ—(yang artinya): "Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Karena sesungguhnya tidaklah berputus asa dari Rahmat Allah kecuali orang-orang yang kafir." [QS. Yûsuf: 87]

Bagaimana mungkin keputusasaan menggerogoti jiwanya, sementara ia selalu mengulang-ulang firman Allah—Subhânahu wata`âlâ—(yang artinya): "Dan tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya kecuali orang-orang yang sesat?" [QS. Al-Hijr: 56]

Ketika seorang hamba beriman dengan sungguh-sungguh, ia tidak akan pernah putus asa, bahkan akan selalu merasa optimis, merasa ridha, dan akan selalu merusaha mencari yang terbaik dalam segala urusan, kendati ia harus berhadapan dengan berbagai rintangan karenanya. Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Betapa menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya adalah baik baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan lalu bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa kesedihan lalu bersabar, maka hal itu juga menjadi kebaikan bagi dirinya." Dalam segala kondisi, ia dijanjikan dengan kabaikan, sehingga bagaimana mungkin ia akan berputus asa?

Dengan imannya, seorang mukmin merasa bahwa Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—selalu bersamanya. Allah-lah yang akan menolong dan mencukupi kebutuhannya. Atas dasar itu, ketika ia sakit, ia mengharapkan kesembuhan dan pahala dari Allah. Sebagaimana perkataan Nabi Ibrahim yang diabadikan di dalam Al-Quran (yang artinya): "Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku." [QS. Asy-Syu`arâ': 80]

Jika suatu ketika jiwanya merasa lemah sehingga terjerumus ke dalam maksiat, ia segera bertobat mengharap ampunan dan rahmat Allah, seraya memampangkan di hadapannya firman Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—(yang artinya): "Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa seluruhnya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'." [QS. Az-Zumar: 53]

Ketika ia merasa sempit atau mengalami kesusahan, ia yakin bahwa kesusahan itu sebentar lagi akan lenyap, karena satu kesusahan tidak akan menang menghadapi dua kemudahan. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman (yang artinya): "Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." [QS. Asy-Insyirâh: 5-6]

Sesungguhnya seorang mukmin dalam setiap kondisinya adalah pribadi yang memiliki harapan besar terhadap rahmat, kemudahan, dan pertolongan dari Allah. Karena seorang mukmin tidak hanya bergantung kepada faktor usaha yang zahir, akan tetapi imannya melampau semua itu dengan meyakini bahwa faktor-faktor itu sendiri memiliki pencipta dan penyebabnya, yaitu Tuhan yang di tangan-Nya segala sesuatu. Dzat yang apabila menghendaki sesuatu, Dia cukup mengatakan kepadanya: "Kun" (Jadilah)! Lalu ia pun terwujud. Dengan demikian, hati seorang mukmin akan selalu dipenuhi oleh tawakal, harapan, dan cita-cita. Inilah yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang tidak beriman. Oleh karena itu, Anda melihat mereka rentan bunuh diri dan menderita penyakit-penyakit jiwa yang beragam. Kita memohon kepada Allah semoga diselamatkan dari semua itu.

Betapa Sempitnya Kehidupan Tanpa Luasnya Harapan

Harapan dan cita-cita harus dimiliki demi mencapai kemajuan dalam segala lini kehidupan. Kalaulah bukan karena harapan, peradaban-peradaban tidak akan pernah terbangun, ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan maju, umat manusia tidak akan mampu bangkit dari bencana yang menimpa mereka, dakwah perbaikan di tengah-tengah masyarakat juga tidak akan berjalan. Pepatah mengatakan:

"Kalaulah bukan karena harapan, niscaya tak seorang pun yang akan mendirikan bangunan, dan tak seorang pun yang akan menanam tanaman."

Karena itu, wahai orang yang beriman, jadilah orang yang berbaik sangka kepada Tuhan Anda, optimis mengharapkan kebaikan, kemenangan, dan pertolongan dari-Nya. Jika Anda ditimpa musibah dan kesulitan, bersabarlah dan ketahuilah bahwa walaupun kesulitan itu sampai masuk ke lubang kecil sekalipun, niscaya kemudahan akan terus membuntutinya. Maka jadilah Anda orang yang penyabar dan tahan uji. Minta tolonglah kepada Allah dan janganlah merasa lemah!

 

 

www.islamweb.net