Sifat Asy-Syuhh

30/04/2019| IslamWeb

Makna Asy-Syuhh:

Asy-Syuhh adalah sifat bakhil yang disertai rakus. Ibnu Rajab—Semoga Allah meridhainya—mendefinisikan sifat ini dengan: "Keinginan yang kuat untuk memperoleh apa yang diharamkan Allah dan pelit memberikannya kepada orang lain, serta rasa tidak puas dengan harta benda dan segala hal yang telah dihalalkan oleh Allah."

Perbedaan antara Kikir dan Asy-Syuhh

Ibnul Qayyim—Semoga Allah meridhainya—berkata, "Perbedaan antara pelit dan asy-syuhh adalah bahwa asy-syuhh merupakan ketamakan yang sangat kuat terhadap sesuatu, disertai dengan usaha keras untuk mendapatkannya dan kerakusan untuk memperolehnya. Sementara kikir adalah sikap tidak mau menginfakkannya setelah didapatkan. Jadi, asy-syuhh adalah sifat sebelum mendapatkan sesuatu, dan kikir adalah sifat setelah mendapatkannya. Artinya, kikir adalah buah dari asy-syuhh, dan asy-syuhh menggiring kepada kekikiran. Asy-syuhh adalah sifat yang sejatinya telah tertanam di dalam diri, sehingga orang yang kikir sebenarnya adalah orang yang tunduk kepada sifat as-syuhh dalam dirinya, sedangkan orang yang tidak kikir berarti sukses melawan sifat asy-syuhh itu sekaligus terhindar dari keburukannya. Orang seperti inilah yang pantas disebut sebagai manusia beruntung." Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman (yang artinya): "Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung." [QS. Al-Hasyr: 9]

Tidak diragukan lagi bahwa asy-syuhh termasuk salah satu sifat yang paling buruk dan bertentangan dengan nilai-nilai keimanan. Oleh karena itu, Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Tidak akan pernah berkumpul debu perjuangan di jalan Allah dengan asap neraka Jahanam pada diri seorang hamba, dan tidak akan pernah berkumpul sifat asy-syuhh dengan iman dalam hati seorang hamba." [HR. Ahmad dan An-Nasâ'i. Menurut Al-Albâni: shahîh]

Sifat asy-syuhh akan menghancurkan pemiliknya. Bahkan jika ia tersebar di tengah sebuah masyarakat niscaya ia akan mencabik-cabik dan mencelakakan masyarakat itu. Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Adapun hal-hal yang menghancurkan itu adalah: sifat asy-syuhh yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan rasa bangga terhadap diri sendiri." [Menurut Al-Albâni: hasan, diriwayatkan dari Ibnu Umar]

Oleh karena itu, Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—melarang keras sifat yang sangat tercela ini, karena akan menyebabkan tersebarnya kezaliman, terputusnya silaturahim, tertumpahnya darah secara sia-sia, dan dimakannya harta melalui jalan yang batil. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah ibnu Umar—Semoga Allah meridhainya, Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Jauhilah oleh kalian sifat asy-syuhh, karena ia telah menghancurkan orang-orang sebelum kalian. Asy-syuhh memerintahkan mereka untuk memutuskan silaturahim, dan mereka pun memutuskannya. Asy-syuhh memerintahkan mereka untuk berbuat maksiat, dan mereka pun melakukannya." [HR. Abû Dâwûd dan Ahmad. Menurut Syaikh Ahmad Syâkir: shahîh]

Hal yang sangat menakjubkan, orang yang memiliki sifat asy-syuhh ini akan selalu hidup miskin walau ia adalah orang terkaya sekalipun. Karena ia begitu kikir, bahkan terhadap dirinya sendiri, sehingga ia hanya mengumpulkan harta untuk orang lain belaka. Ini adalah fenomena yang dapat kita saksikan dengan mata kepala kita dalam kehidupan sehari-hari.

Suatu ketika, Al-Hasan Al-Bashri—Semoga Allah meridhainya—menjenguk Abdullah ibnu Al-Ahtam yang sedang dalam keadaan sakit. Abdullah memandang ke arah sebuah berangkas di dalam rumahnya, lalu berkata kepada Al-Hasan, "Wahai Abu Sa`îd, bagaimana menurutmu tentang uang seratus ribu (dinar) di dalam berangkas ini yang tidak pernah aku keluarkan zakatnya dan tidak pernah aku gunakan untuk menyambung silaturahim?" Al-Hasan menjawab, "Lalu untuk apa engkau menumpuknya?" Ia menjawab, "Karena kekhawatiran terhadap zaman, karena ketidakramahan penguasa, dan karena berlomba dengan keluarga." Kemudian ia pun meninggal dunia. Setelah selesai menguburkannya, Al-Hasan berkata, "Lihatlah orang yang malang ini. Syetannya telah membiusnya dengan kekhawatiran terhadap masa depannya, ketidakramahan penguasanya, dan ambisinya untuk berlomba dengan keluarganya, sehingga melupakan rezeki yang Allah berikan kepadanya. Lihatlah bagaimana ia keluar dari dunia tanpa membawa apa-apa."

Lalu ia menoleh kepada ahli waris Abdullah seraya berkata, "Wahai para ahli waris, janganlah sekali-kali engkau tertipu seperti tertipunya saudaramu ini kemarin. Harta ini mendatangimu dalam keadaan halal, maka janganlah ia menjadi bencana bagimu. Harta ini mendatangimu dalam keadaan bersih dan jernih, dari seorang yang dahulu menumpuk-numpuknya dan tidak mau mengeluarkan zakatnya. Ia kumpulkan ini dari yang batil, dan tidak ia nafkahkan untuk orang yang berhak mendapatkannya. Sesungguhnya hari Kiamat adalah saat yang penuh penyesalan. Dan sungguh di antara kerugian yang paling besar esok hari adalah jika engkau melihat hartamu justru masuk ke dalam timbangan amal orang lain. Malangnya, saat itu, kesalahan tidak lagi dapat ditebus, tobat pun tidak lagi mungkin didapatkan."

Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—telah menggolongkan sifat asy-syuhh ini sebagai salah satu dosa yang menghancurkan. Adapun untuk orang yang menyucikan dirinya dari sifat ini, Allah—Subhânahu wata`âlâ—telah menjanjikan keberuntungan sejati. Allah berfirman (yang artinya): "Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." [QS. Al-Hasyr: 9]

 

 

Referensi:

-      Mausû'ah Nadhratin Na`îm fî Makârimi Akhlâqir Rasûlil Karîm;

-      At-Targhîb wat Tarhîb, karya Al-Mundziri;

-      Minhâjul Muslim, karya Abu Bakar Jâbir Al-Jazâ'iri.

 

 

www.islamweb.net