Sikap Ekstrim Kendaraan Syetan

21/12/2023| IslamWeb

Sesungguhnya fenomena ekstrimisme termasuk salah satu fenomena yang menjangkiti manusia, sehingga mereka melampaui batas. Barangkali sebagian dari mereka bertujuan untuk mencapai sesuatu yang lebih sempurna, akan tetapi dia tersesat. Biasanya kita melihat dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang seperti ini akan beramal, sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar—Semoga Allah merahmatinya, "Tidaklah seseorang bersikap ekstrim dalam melakukan amalan-amalan agama, dan meninggalkan kelembutan, melainkan dia akan lemah dan berhenti beramal, dan kalah. RasulullahShallallâhu `alaihi wasallambenar dalam sabda beliau, "Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidaklah seseorang bersikap berlebihan terhadap agama ini melainkan ia akan mengalahkannya."

Syetan mendorong orang-orang seperti ini untuk bersikap berlebihan dan ekstrim ketika ia mengetahui bahwa mereka memiliki kekuatan, semangat dan keberanian, sampai ia menyelewengkan mereka dari jalan yang lurus. Agama Allah—Subhânahu wata`âlâ—hanya satu, yaitu Islam. Islam berada antara sikap ekstrim dan kaku. Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—memperingatkan kita agar tidak terjatuh ke dalam sikap ekstrim. Beliau bersabda, "Jauhilah sikap berlebihan dalam agama. Sesungguhanya yang menghancurkan orang-orang sebelum kalian adalah sikap berlebihan dalam agama."

Ketika NabiShallallâhu `alaihi wasallam—mengetahui orang-orang yang sebagian dari mereka mengatakan, "Aku tidak akan menikahi wanita," sebagian lagi mengatakan, "Aku tidak akan memakan daging," dan sebagian lagi mengatakan, "Aku tidak akan tidur di atas kasur," maka pada saat itu beliau bersabda, "Kenapa orang-orang mengatakan ini dan itu. Namun aku shalat dan tidur, berpuasa dan berbuka, dan menikahi perempuan. Barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, bukanlah dari golonganku."

Bahkan Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda: "Celaka orang yang memaksakan diri." Beliau mengatakannya sebanyak tiga kali. Bukankah semua ini menunjukkan bahaya dari tindakan ekstrim dan berlebihan?

Salafush Shâlih Melarang Sikap Ekstrim

Salafush Shâlih dan para ulama—Semoga Allah meridhai mereka—memahami bahaya dari tindakan berlebihan, maka mereka melarangnya. Umar bin Al-Khaththâb—Semoga Allah meridhainya—ditanya seseorang tentang pengertian kata abb (rerumputan) dalam firman Allah (yang artinya): "Dan buah-buahan dan abb." [QS. `Abasa: 3]. Dia berkata, "Kita dilarang berlebihan dan menyusahkan diri."

Ubadah bin Nasi—Semoga Allah meridhainya—mengatakan kepada sekelompok orang, "Aku menemukan orang-orang yang tidak berlebihan seperti kalian, dan tidak mempertanyakan seperti pertanyaan kalian."

Pada suatu ketika seseorang mengirim surat kepada Umar bin Abdul Aziz, bertanya tentang masalah takdir. Umar membalas suratnya dengan berkata, "Aku berwasiat kepadamu agar bertaqwa kepada Allah dan bersikap menengah dalam perintah-Nya, dan mengikuti sunnah Nabi-NyaShallallâhu `alaihi wasallam, meninggalkan perkara yang dibuat oleh orang-orang baru, setelah sunnah beliau berjalan, dan telah dijauhkan bebannya dari mereka. Hendaklah engkau berpegang pada sunnah. Sesungguhnya sunnah itu bagimu—dengan izin Allah—sebagai penjaga. Kemudian ketahuilah bahwa tidaklah orang-orang itu membuat suatu bid`ah melainkan sebelumnya telah terdapat dalil yang menunjukkannya, atau mengungkapkannya. Sesungguhnya sunnah ditetapkan oleh orang yang mengetahui bahwa dalam perkara yang berlawanan dengannya terdapat kesalahan, ketergelinciran, kebodohan, dan tindakan berlebihan. Ridhalah untuk dirimu sesuatu yang mereka ridha. Sesungguhnya mereka mengambil sesuatu berdasarkan ilmu dan meninggalkan apa yang mereka tinggalkan dengan pemahaman yang tajam. Mereka lebih mampu menyingkap hakikat sesuatu dan lebih layak karena kelebihan yang ada pada mereka. Karena jika apa yang kalian lakukan itu adalah petunjuk (hidayah), berarti kalian telah mengungguli mereka. Namun jika kalian mengatakan, hal ini terjadi sesudah mereka, maka tidaklah ia dibuat melainkan oleh orang yang menyalahi jalan mereka, dan mengedepankan diri sendiri atas mereka. Sesungguhnya merekalah (Nabi dan shahabat) yang unggul. Mereka telah bericara tentang agama ini dengan cukup, dan telah menjelaskannya dengan memadai. Amal yang kurang dari apa yang mereka lakukan adalah kelalaian, dan yang melebihi apa yang mereka lakukan adalah penyesalan. Sebagian kalangan berbuat kurang dari mereka, sehingga mereka kaku. Sebagian lagi berambisi melakukan lebih dari mereka sehingga mereka ekstrim. Sesungguhnya sikap antara kedua golongan itulah yang berada di jalan yang lurus.

Engkau menulis surat, menanyakan tentang pengakuan terhadap takdir. Engkau telah bertanya—dengan izin Allah—kepada seorang yang tahu. Menurutku apa yang dibuat manusia, berupa perkara yang baru dan bid`ah tidaklah memiliki pengaruh yang lebih jelas dan lebih kuat dari pada pengaruh pengakuan terhadap takdir. Takdir telah disebut pada zaman Jahiliyah yang gelap. Mereka membicarakannya dalam ucapan-ucapan dan syair-syair mereka. Mereka hibur diri mereka dengannya atas sesuatu yang luput dari mereka. Kemudian Islam datang, dan semakin menguatkannya. RasulullahShallallâhu `alaihi wasallammembicarakannya tidak hanya dalam satu atau dua hadits saja. Kaum muslimin telah mendengarnya dari beliau. Sehingga mereka pun telah membicarakannya pada saat beliau masih hidup dan setelah beliau wafat, dengan penuh keyakinan dan ketundukan kepada Rabb mereka, dan menghindari prasangkaan bahwa Allah tidak mengetahuinya, dan tidak Dia sebutkan dalam catatan-Nya, dan tidak Dia tetapkan dalam takdirnya. Bersamaan dengan itu, ia juga terdapat dalam Kitab-Nya yang kokoh (Al-Quran). Darinya mereka mengutip, dan darinya mereka belajar. Jika kalian katakan, kenapa Allah menurunkan ayat ini? Kenapa Allah memfirmankan itu? Sesungguhnya mereka sudah membaca apa yang kalian baca, dan mengetahui sesuatu yang tidak kalian ketahui, akan tetapi kemudian mereka berkata, 'Semua itu sudah ada dalam catatan Allah dan takdir-Nya. Kesengsaraan sudah dituliskan; dan sesuatu yang telah ditakdirkan pasti terjadi. Apa yang Allah kehendaki akan terjadi, dan sesuatu yang tidak Dia kehendaki tidak akan pernah terjadi. Kita tidak bisa mendatangkan kemudaratan dan kebaikan untuk diri kita.' Kemudian setelah itu mereka berharap dan cemas." [HR. Abû Dâwud. Menurut Al-Albâni: sanadnya shahîh].

Diceritakan bahwa suatu ketika seorang laki-laki datang kepada Ibnu `Aqîl—Semoga Allah merahmatinya—dan berkata, "Saya berendam di dalam air berulang kali, akan tetapi saya masih ragu apakah mandi saya sudah sah atau belum. Bagaimana pendapatmu tentang hal ini?" Ibnu `Aqîl berkata, "Wahai orang tua, pergilah. Sesungguhnya engkau telah bebas dari kewajiban shalat." Laki-laki itu berkata, "Kenapa?" Ibnu `Aqîl berkata, "Karena Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Pena diangkat dari tiga golongan: orang gila sampai ia sadar...." Orang yang berendam di dalam air selama berulang kali, akan tetapi dia masih ragu apakah air sudah menyentuhnya atau belum adalah orang gila.

Jenis-Jenis Sikap Ekstrim

Dengan mengkaji dan merenungi nash-nash yang berbicara tentang sikap ekstrim, kita menemukan beberapa jenis dari sikap ini. Di antaranya:

-          Ekstrim dalam agama, yaitu dengan keyakinan yang batil, seperti keyakinan kaum Nashrani bahwa Al-Masîh adalah Tuhan, atau ia adalah anak Tuhan, dan juga perkataan orang-orang Yahudi  bahwa Al-Masîh anak zina. Kita menemukan sikap ekstirm seperti ini dalam sekte yang menyimpang, seperti Khawârij, Râfidhah dan Murji'ah.

-          Ekstrim dalam keilmuan, seperti memelintir kata-kata, sehingga keluar dari maksud yang sebenarnya.

-          Ekstrim dalam ibadah, seperti bersikap keras terhadap dirinya sampai membuatnya bosan, dan membenci ibadah tersebut, lalu berbalik haluan.

-          Ekstrim terhadap tokoh dan kelompok, yaitu mengangkat mereka lebih dari kapasitas mereka yang sesungguhnya, atau menerapkan prinsip al-walâ' wal barâ' (loyalitas dan disloyalitas) berdasarkan pendapat suatu kelompok dan pengikutnya.

Cara Mengenal Sikap Ekstrim

Jika sikap ekstrim sedemikian berbahayanya, maka apakah boleh kita menghukumi seseorang atau suatu masyarakat bahwa mereka telah melampaui batas yang telah di tetapkan syariat?

Adalah sesuatu yang tidak dipertentangkan bahwa untuk menghukumi keyakinan dan perbuatan, bahwa ia termasuk ke dalam kategori ekstrim atau tidak, kita harus merujuk kepada para ulama yang kompeten. Jika tidak, maka orang-orang lalai, fasik, dan sekuler menganggap bahwa setiap penampilan agamis sebagai tindakan ekstrim. Menurut mereka, memakai hijab bagi wanita termasuk tindakan ekstrim. Begitu juga memelihara janggut, dan menuntut penerapan hukum syariat, dalam pandangan mereka juga sebuah sikap ekstrim.

Apakah Ekstrimisme Fenomena Islam?

Maksudnya apakah ekstrimisme hanya terjadi di tengah masyarakat Islam saja?

Dalam realitas dan sejarah kita melihat bahwa fenomena ini tidak hanya terjadi di tengah kaum muslimin saja. Dalam kaum Yahudi dan Nashrani juga terdapat banyak fenomena ekstrimisme.

Masyarakat modern dalam suatu sisi juga dijangkiti fenomena ekstrimisme. Berbagai perhimpunan di dunia—baik agamis ataupun nasionalis—terjangkiti penyakit ini. Adalah sebuah tindakan yang tidak benar kita mengikuti orang-orang yang melayangkan tuduhan ini hanya kepada umat Islam. Dan adalah sebuah musibah besar, kita melihat sebagian dari kita larut di balik propaganda musuh yang menyatakan bahwa pengajaran syariat dan kurikulum agama di dunia Islam adalah faktor yang melahirkan fenomena ekstrimisme. Padahal sejarah dan realita kehidupan menunjukkan bahwa faktor terbesar dari fenomena ini justru kebodohan tentang hukum Islam. Renungkanlah!

 

 

www.islamweb.net