Waswasah Adalah Senjata Syetan

20/08/2023| IslamWeb

Adalah sebuah realita yang tidak bisa dipungkiri, bahwa permusuhan antara manusia dengan Syetan adalah sebuah permusuhan klasik. Permusuhan itu dimulai sejak AllahSubhânahu wata`âlâmemerintahkan para Malaikat bersujud kepada Adam`Alaihis salâm, tapi Iblis enggan melaksanakannya dan bersikap angkuh. Ia justru mengumandangkan permusuhan dan memukul genderang perang terhadap keturunan Adam. Allah memberitakan hal itu dalam firman-Nya (yang artinya): "Iblis menjawab: 'Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang diselamatkan di antara mereka'." [QS. Shâd: 82-83]

Syetan juga berkonsentrasi penuh untuk memperdaya dan menyesatkan kita setiap saat. Ia sangat gigih menebarkan racunnya ke dalam hati kaum muslimin untuk menggoyahkan keimanan mereka kepada Allah, sekaligus menanamkan keraguan tentang berita Alam Gaib yang diceritakan Allah di dalam Kitab-Nya yang mulia.

Sebuah hadits diriwayatkan dari Saburah ibnu Abi Fâqih—Semoga Allah meridhainya, bahwa ia mendengar Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Syetan duduk untuk (memperdaya) anak Adam di semua jalan kebenaran. Ia duduk untuk memperdaya manusia agar berpaling dari jalan Islam. Ia mengatakan, 'Engkau mau masuk Islam dengan meninggalkan agamamu, agama bapakmu dan nenek moyangmu?' Si Manusia ini lalu melawan bisikan Syetan itu dan memutuskan masuk Islam. Kemudian Syetan duduk memperdayanya di jalan hijrah sembari berkata, 'Engkau mau berhijrah dan meninggalkan tanah air dan langitmu? Ingatlah, sesungguhnya seorang yang berhijrah bagaikan kuda yang diikat di tempat tambatan'. Si manusia ini pun melawan bisikan itu, lalu pergi berhijrah. Kemudian Syetan duduk memperdayanya di jalan jihad, sembari berkata, 'Apakah engkau mau pergi berjihad mengorbankan jiwa dan harta? Lalu ketika engkau terbunuh, istrimu dinikahi oleh orang lain dan hartamu dibagi-bagi?' Namun manusia ini masih terus melawan bisikan itu, lalu pergi berjihad. Barang siapa yang berbuat demikian, adalah wajib bagi Allah untuk memasukkannya ke dalam Surga. Siapa yang terbunuh, adalah kemestian bagi Allah memasukkannya ke dalam Surga. Jika ia tenggelam (ke dalam air), adalah sebuah kemestian bagi Allah untuk memasukkannya ke dalam Surga. Seandainya ia ditanduk oleh binatang hingga terbunuh, adalah kemestian bagi Allah untuk memasukkannya ke dalam Surga." [HR. An-Nasâ'i. Menurut Al-Hâfizh: sanad-nya hasan]

Di antara rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah bahwa Dia tidak memberikan Syetan kekuasaan atas orang-orang beriman. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman (yang artinya): "Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagi kalian atas mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kalian, yaitu orang-orang yang sesat." [QS. Al-Hijr: 42]

Sebagaimana Allah—Subhânahu wata`âlâ—juga menyebutkan bahwa tipu daya Syetan itu lemah, dalam firman-Nya (yang artinya): "…karena sesungguhnya tipu daya Syetan itu adalah lemah." [QS. An-Nisâ': 76]. Sehingga dengan demikian, Syetan tidak memiliki jalan untuk mengganggu orang-orang beriman, kecuali dengan menanamkan waswasah (bisikan-bisikan buruk).

Pengertian Waswasah

Waswasah adalah bisikan yang ditiupkan oleh Syetan ke dalam hati. Râghib mendefenisikannya dengan "Lintasan pikiran yang buruk". Al-Baghawi mengatakan, "Waswasah adalah bisikan tersembunyi yang bertujuan untuk menyesatkan. Sedangkan was-was adalah lintasan pikiran yang ada di dalam hati berisi bayangan perbuatan buruk yang tidak ada kebaikan di dalamnya. Ini berbeda dengan ilham yang berisi kebaikan."

Ibnul Qayyim—Semoga Allah merahmatinya—berkata, "Waswasah adalah pikiran yang ditiupkan ke dalam hati, baik dengan suara bisikan yang tidak didengar kecuali oleh orang yang menjadi objeknya, maupun tanpa suara sama sekali, sebagaimana pikiran yang ditanamkan Syetan kepada manusia."

Waswasah kadang-kadang berasal dari tiupan Syetan dari kalangan Jin sebagaimana disinyalir dalam firman Allah—Subhânahu wata`âlâ—(yang artinya): "Maka Syetan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka, yaitu aurat mereka." [QS. Al-A`râf: 20]. Dan Allah—Subhânahu wata`âlâ—juga menamakan Syetan Jin dan Syetan manusia sebagai was-wasah (bisikan) itu sendiri, yaitu dalam firman-Nya (yang artinya): "Dari kejahatan 'Bisikan' (Syetan) yang biasa bersembunyi." [QS. An-Nâs: 4]

Kadang-kadang perbuatan waswasah juga berasal dari nafsu, sebagaimana disinyalir dalam firman Allah—Subhânahu wata`âlâ—(yang artinya): "dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh nafsunya…" [QS. Qâf: 16]

Jenis-Jenis Waswasah

Syetan berusaha mendatangi anak Adam untuk memberikan godaan dalam semua kondisinya, bahkan ketika ia makan dan minum sekalipun. Tapi tujuan utamanya adalah merusak keimanan hamba yang beriman. Dengan segenap daya dan upayanya, ia berusaha memadamkan cahaya ilmu dan hidayah di dalam hati seorang mukmin, serta menjerumuskannya ke dalam kegelapan rasa ragu dan bimbang. Berdasarkan itu, bisikan-bisikan yang ia lancarkan biasanya tertuju kepada dua sisi:

Pertama, bisikan pada sisi keilmuan (teoritis), yaitu tentang permasalahan-permasalahan akidah dan keimanan. Ini merupakan sisi yang paling berbahaya, karena Tauhid adalah pondasi ajaran Islam, benteng Agama yang kokoh, serta modal hidup utama seorang mukmin. Dan melalui sisi ini, Syetan dapat menebar racun-racunnya untuk merusak Agama seseorang. Oleh karena itu, Iblis melancarkan kebanyakan panah-panah dan para pasukannya untuk merusak Akidah, serta membuat keraguan terhadap keyakinan Tauhid yang bersih, agar manusia berpaling dari Agamanya yang benar. Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—menerangkan itu dalam sabda beliau, "Sesungguhnya singgasana Iblis terletak di laut, lalu ia mengirim pasukan-pasukannya untuk menggoda manusia. Anggota pasukan yang paling tinggi posisinya di sisinya adalah yang paling dahsyat godaannya terhadap manusia." [HR. Muslim]

Kedua, bisikan pada sisi amal perbuatan, yaitu terkait ibadah dan muamalah (interaksi sesama manusia). Syetan mendatangi seorang muslim ketika sedang berwudhuk, shalat, berzikir, berdoa, haji, thawaf, puasa, dan lain-lain, untuk mengacaukan ibadah dan merusak amal ketaatannya. Sebuah hadits diriwayatkan dari Abu Hurairah—Semoga Allah meridhainya, bahwa Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Sesungguhnya apabila mendengar azan, Syetan lari terbirit-birit dengan mengeluarkan suara angin yang keras, sampai ia tidak lagi mendengarnya. Ketika suara azan telah berhenti, ia kembali datang untuk melancarkan bisikan-bisikannya. Ketika iqamah dikumandangkan, ia lari sampai tidak lagi mendengarnya. Dan setelah iqamah berhenti, ia kembali datang untuk melancarkan godaannya." [HR. Al-Bukhâri dan Muslim]

Jenis bisikan yang pertama, yaitu terkait permasalahan Akidah, merupakan muslihat dan permainan Syetan terhadap sebagian manusia dengan cara membuatnya merasa suka kepada hal-hal yang tidak penting serta mempertanyakan perkara-perkara yang tidak mungkin diketahui manusia tentang Sang Pencipta. Ia misalnya terdorong untuk bertanya tentang zat Tuhan, tentang keberadaan-Nya, dan lain-lain. Bisikan seperti ini kadang juga sempat datang kepada banyak orang-orang yang memiliki keimanan kuat, tapi mereka mampu mengusirnya dengan menganggap betapa besarnya permasalahan itu (sehinggga tidak layak diungkapkan).

Hal itu terlihat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah—Semoga Allah meridhainya, bahwa pada suatu ketika, ada sekelompok orang mendatangi Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam, lalu bertanya kepada beliau, "Kami memikirkan di dalam diri kami tentang permasalahan yang terlalu besar untuk kami ucapkan." Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Kalian merasakannya?" Mereka menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Itulah bukti nyata keimanan." [HR. Muslim]

Hadits lain diriwayatkan dari Abdullah ibnu Mas`ud—Semoga Allah meridhainya, bahwa Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—pernah ditanya tentang waswasah (bisikan Syetan), dan beliau menjawab, "Itulah bukti iman yang murni." [HR. Muslim]

Al-Khaththâbi berkata, "Maksudnya adalah bahwa kemurnian iman itulah yang menghalangi kalian untuk mengucapkan dan membenarkan apa yang dibisikkan Syetan ke dalam pikiran kalian. Bukan maksudnya bahwa bisikan itulah bukti keimanan yang murni, karena ia berasal dari perbuatan Syetan, sehingga tidak mungkin disebut sebagai iman yang murni. Karena iman adalah keyakinan. Hadits ini sebenarnya mengisyaratkan bahwa perasaan takut terhadap hukuman Allah atas bisikan yang ada di pikiran mereka itu merupakan bukti kemurnian iman, karena rasa takut kepada Allah merupakan lawan dari keraguan akan keberadaan-Nya."

Ibnu Taimiyyah—Semoga Allah merahmatinya—berkata:

"Maksud hadits ini adalah bahwa terjadinya bisikan pikiran itu dengan diiringi ketidaksukaan akan keberadaannya serta usaha untuk menolaknya merupakan bentuk kemurnian iman. Sama seperti seorang mujahid yang didatangi oleh musuh, lalu ia melawannya sampai berhasil mengalahkannya. Ini merupakan jihad yang paling agung. Disebut 'murni' karena mereka membenci kedatangan bisikan Syetan itu serta berusaha mengusirnya, sehingga iman mereka menjadi selamat dan bersih murni."

Ia juga berkata:

"Ketika Syetan memasukkan bisikan itu ke dalam hati mereka, dan mereka berusaha melawannya, bergeraklah keimanan yang ada di dalam hati mereka untuk membenci bisikan itu dan menganggapnya sebagai hal besar yang tidak layak dipikirkan. Karena itu, jadilah ia sebagai bentuk kemurnian iman. Tetapi itu tidak membuat bisikan itu sendiri sebagai sesuatu yang diperintahkan keberadaannya. Dalam kehidupan sehari-hari, seorang hamba mungkin pernah diajak oleh seseorang untuk kufur atau berbuat maksiat, lalu ia menolak, dan itu melahirkan sebuah keimanan dan ketakwaan di dalam dirinya. Tapi itu tetap tidak membuat penyebabnya (ajakan untuk kufur) sebagai sesuatu yang diperintahkan. Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—berfirman (yang artinya): "(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: 'Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka', maka perkataan itu menambah keimanan mereka, dan mereka menjawab: 'Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung'. Maka mereka pun kembali dengan membawa nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar." [QS. Âli `Imrân: 173-174]

Jadi, pertambahan iman itu disebabkan oleh karena mereka ditakut-takui dengan keberadaan musuh. Tetapi tetap saja aksi menakut-nakuti seperti ini bukan sesuatu yang diperintahkan. Bahkan ketika hamba berbuat dosa, lalu dosa itu membuat ia bertobat sehingga dicintai oleh Allah, dosa itu tetap tidak menjadi sesuatu yang dianjurkan. Dan ini adalah sebuah pembahasan yang luas."

Nabi kita—Shallallâhu `alaihi wasallam—telah mengabarkan kepada para shahabat beliau bahwa bisikan-bisikan yang terlintas di dalam pikiran ini kelak akan dibicarakan oleh manusia. Hal itu terungkap dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah—Semoga Allah meridhainya, bahwa Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Mereka akan senantiasa bertanya kepadamu, wahai Abu Hurairah, sampai kemudian mereka berkata, 'Allah ini siapa yang menciptakan-Nya?'."

Abu Hurairah—Semoga Allah meridhainya—bercerita, "Suatu ketika, ketika aku sedang berada di mesjid, tiba-tiba datang sekumpulan orang dari perkampungan, lalu mereka berkata kepadaku, 'Wahai Abu Hurairah, Allah ini siapa yang menciptakan-Nya?'." Mendengar itu, Abu Hurairah langsung mengambil segenggam kerikil lalu melepar mereka seraya berkata, "Pergilah kalian, pergilah! Sungguh benar apa yang dikatakan oleh kekasihku (Rasulullah)." [HR. Muslim]

Cara-cara Mengobati Bisikan dalam Masalah Akidah

Cara untuk menyelamatkan diri dari bisikan Syetan tentang masalah-masalah keimanan dan Akidah ada dua:

Pertama, mencegah kedatangannya.

Maksudnya adalah berusaha menghindar dari bisikan-bisikan itu sebelum ia datang. Caranya adalah dengan membentengi diri dengan ilmu, serta berusaha memahami dan mempelajari permasalahan-permasalahan Tauhid dan keimanan. Karena Syetan tidak akan menemukan jalan untuk membuat ragu orang yang memiliki ilmu tentang keimanan. Orang-orang berilmu seperti ini akan selalu sukses menaklukkan Syetan setiap kali berusaha menyesatkan mereka. Setiap kali Syetan berusaha menyergap mereka dengan bisikan-bisikannya, mereka lumpuhkan dengan ilmu dan petunjuk yang mereka miliki. Karena itu, "Satu orang yang berilmu lebih ditakuti oleh Syetan daripada seribu orang ahli ibadah." Selain itu, orang yang mengenal Allah melalui sifat-sifat-Nya dan makhluk ciptaan-Nya pasti akan benar-benar mengagungkan dan memuliakan-Nya, serta selalu berbaik sangka kepada-Nya hingga kelak bertemu dengan-Nya.

Kedua, bila bisikan Syetan datang, seorang muslim yang sadar harus menolak dan membantahnya dengan enam hal:

1.    Tidak mau terus-menerus memikirkannya dan segera memutusnya dengan cara mengucapkan ta'awwudz memohon perlindungan kepada Allah dari godaan Syetan yang terkutuk. Ini berdasarkan kepada sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah—Semoga Allah meridhainya, bahwa Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Syetan akan mendatangi seseorang dari kalian lalu berkata kepadanya, 'Siapa yang menciptakan ini dan itu?', sampai ia berkata kepadanya, 'Siapa yang menciptakan Tuhanmu?'. Apabila itu terjadi, hendaklah ia berlindung kepada Allah dan segera menghentikan semua pikiran itu." [HR. Muslim]

Artinya, apabila seseorang dihadapkan kepada bisikan Syetan hendaklah segera meminta tolong kepada Allah untuk mengusirnya seraya berpaling dengan segera dari semua pikiran itu. Ia harus menyadari bahwa pikiran seperti itu berasal dari bisikan Syetan. Ia harus ingat bahwa Syetan selalu berusaha merusak dan menyesatkan manusia, sehingga ia tidak boleh mendengarkan bisikannya, justru harus segera memutus semua pikiran yang tidak benar itu dengan cara melupakannya.

Ini sesuai dengan firman Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—(yang artinya): "Dan jika engkau ditimpa suatu godaan Syetan maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa waswasah (bisikan) dari Syetan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka menyadari kesalahan-kesalahan mereka." [[QS. Al-A`râf: 200-2001]

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah ibnu Mas'ud—Semoga Allah meridhainya, Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Sesungguhnya Syetan memiliki senjata bisikan pikiran kepada anak Adam, dan Malaikat juga memiliki bisikan itu. Bisikan Syetan adalah bujukan untuk melakukan kejahatan dan mengingkari kebenaran. Sementara bisikan Malaikat adalah bujukan untuk melakukan kebaikan dan mengakui kebenaran. Barang siapa yang merasakan yang kedua ini, ketahuilah bahwa itu berasal dari Allah, dan hendaklah ia memuji Allah (bersyukur). Tetapi bila merasakan yang pertama (bisikan Syetan), hendaklah ia berlindung kepada Allah dari Syetan yang terkutuk."

Oleh karena itu, menjadi sebuah kemestian untuk mendisiplinkan diri agar tidak berkelanjutan tenggelam dalam bisikan-bisikan seperti ini, karena akibatnya demikian memilukan.

2.    Jangan mengajukan pertanyaan yang terang-terangan tentang isi bisikan-bisikan yang terlintas di dalam pikiran. Artinya, jangan mengungkapkan hal itu sedikit pun. Karena seseorang masih berada dalam batas aman selagi bisikan-bisikan itu masih terbatas hanya di dalam pikirannya, belum keluar melalui lidahnya. Sebuah hadits diriwayatkan dari Abu Hurairah—Semoga Allah meridhainya, bahwa Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Sesungguhnya Allah mengampuni dari umatku apa yang terlintas di dalam pikirannya, selama belum ia lakukan atau ia ucapkan." [HR. Al-Bukhâri]

Inilah adab yang selalu dijalankan oleh para shahabat ketika merasa dihinggapi oleh bisikan-bisikan seperti itu. Ini terungkap misalnya dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas—Semoga Allah meridhainya, bahwa pada suatu ketika, seseorang mendatangi Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—lalu berkata kepada beliau, "Aku memikirkan sesuatu di dalam pikiranku, tetapi aku merasa lebih baik menjadi sepotong arang daripada mengungkapkannya." Mendengar itu, Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Segala puji bagi Allah yang telah menolak tipu daya Syetan menjadi bisikan (waswasah)." [HR. Abû Dâwûd]

3.    Ketika bisikan buruk itu datang, ucapkanlah dengan penuh keteguhan hati: "Aku beriman kepada Allah". Ini sesuai dengan arahan sebuah hadits yang mengatakan: "Manusia akan senantiasa bertanya-tanya, hingga mereka akhirnya berkata, 'Allah menciptakan para makhluk, lalu siapakah yang menciptakan Allah?' Barang siapa yang merasakan bisikan pertanyaan seperti itu hendaklah ia mengucapkan: 'Aku beriman kepada Allah'." [HR. Muslim]

Tentu sudah dimaklumi bersama, bahwa keimanan kepada Allah merupakan rukun pertama keimanan kepada yang gaib. Dan dari keimanan kepada Allah inilah munculnya keimanan kepada rukun-rukun iman yang lain. Oleh karena itu, menegaskan keimanan kepada Allah melalui ucapan berarti mengingatkan diri kepada Allah sekaligus mengusir Syetan.

4.    Imam Ibnul Qayyim—Semoga Allah merahmatinya—berkata,

"Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—mengajarkan kepada orang yang dihadapkan kepada pikiran tentang 'mata rantai perbuatan', yaitu pikiran: 'Allah menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah?' hendaklah membaca ayat (yang artinya): 'Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu'. [QS. Al-Hadîd: 3]

Begitu pula yang dikatakan oleh Ibnu Abbas kepada Abu Zumail, yaitu Simâk ibnul Walid Al-Hanafi, ketika bertanya kepadanya, 'Sebenarnya apa yang aku rasakan di dalam dadaku ini?' Ketika itu, Ibnu Abbas balik bertanya, 'Apa itu?' Ia menjawab, 'Demi Allah, aku tidak ingin mengungkapkannya'. Ibnu Abbas kembali bertanya, 'Apakah semacam keraguan?' Ia menjawab, 'Benar'. Ibnu Abbas pun berkata, 'Tidak ada seorang pun yang selamat dari hal itu, sampai Allah menurunkan firman-Nya (yang artinya): 'Maka jika engkau (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum engkau. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang ragu-ragu.' [QS. Yûnus: 94]. Maka jika engkau merasakan suatu keraguan di dalam dirimu, ucapkanlah ayat (yang artinya): 'Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu'. [QS. Al-Hadîd: 3]'.

Melalui ayat ini, Allah mengajarkan bahwa 'mata rantai perbuatan' yang tidak berujung itu adalah tidak benar menurut akal sehat. Bahwa mata rantai penciptaan para makhluk berakhir pada sebuah Awal yang tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya, sebagaimana berujung pada suatu Akhir yang tidak ada sesuatu pun setelah-Nya. Allah adalah Dzat Yang Maha Awal, tidak ada sesuatu sebelum-Nya. Dia adalah Dzat Yang Maha Akhir, tidak ada sesuatu pun setelah-Nya. Dia adalah Zat Yang Maha Lahir, tidak ada sesuatu pun di atas-Nya. Dan Dia adalah Dzat Yang Mata Batin, tidak ada sesuatu pun yang lebih dalam dari-Nya."

5.    Kembali kepada Allah dengan berdoa dan meminta keteguhan hati dalam memegang keimanan. Oleh karena itu, Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—sendiri sering mengucapkan doa: "Wahai Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di dalam Agama-Mu." Beliau juga pernah bersabda, "Sesungguhnya iman dapat menjadi usang dalam rongga hati kalian, sebagaimana baju dapat menjadi usang. Karena itu, mintalah kepada Allah agar Dia memperbarui iman kalian."

6.    Apabila bisikan-bisikan itu terus berkelanjutan, tidak ada jalan lain kecuali segera mengadukan masalah itu kepada orang yang berilmu. Karena Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—berfirman (yang artinya): "Maka bertanyalah kalian kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui." [QS. An-Nahl: 43]

Adapun jenis bisikan yang kedua, yaitu yang terkait dengan ibadah, adalah tipu daya Syetan yang menimpa sebagian orang. Misalnya, Syetan datang kepada mereka di saat mereka sedang shalat, lalu membisikkan kepada mareka bahwa wudhuk mereka telah batal, atau bahwa mereka baru melakukan shalat tiga rakaat, bukan empat rakaat, dan sebagainya. Atau ketika seseorang selesai berwudhuk, misalnya Syetan membisikkan kepadanya bahwa ia belum menyapu kepala, atau belum membasuh anggota wudhuk sebagaimana mestinya.

Obat untuk jenis bisikan yang kedua ini pada dasarnya adalah dengan cara tidak menghiraukannya, khususnya apabila itu sudah menjadi kebiasaan dalam diri seseorang. Terapi seperti ini disebutkan oleh Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—dalam sabda beliau, "Syetan datang kepada kalian di dalam shalat kalian, lalu Syetan membuka 'tempat duduk' (tempat keluar buang angin) kalian, lalu membisikkan kepada kalian bahwa kalian telah berhadats (buang angin), padahal kalian tidak berhadats. Apabila salah seorang dari kalian merasakan hal itu, janganlah ia keluar dari shalatnya (membatalkan shalatnya) sampai ia benar-benar mendengar suara (buang angin) di telinganya, atau mencium baunya di hidungnya." [HR. Al-Haitsami; Para perawinya adalah para perawi hadits-hadits shahîh]

Orang yang menderita penyakit ini hendaklah banyak berzikir, karena Syetan tidak memiliki kekuasaan apa-apa terhadap orang yang selalu berzikir. Ia juga harus banyak berdoa dan memohon kepada Allah agar mengusir pikiran yang ia rasakan itu. Di samping itu, ia juga mesti meminta bantuan para spesialis di bidang medis.

Semoga Allah senantiasa menjaga kita dan semua kaum muslimin dari setiap penyakit dan musibah. Semoga Allah berkenan mengusir tipu daya Syetan dari diri kita.

Walhamdulillâhi Rabbil 'âlamîn.

 

 

www.islamweb.net