Bantahan terhadap Syubhat Bahwa "Agama Islam Bukan Agama Cinta dan Toleransi"

3-4-2019 | IslamWeb

Pertanyaan:

Saya pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis. Setelah berlalu satu tahun lebih, saya baru mengetahui bahwa ternyata ia adalah seorang pemeluk Kristen. Saya tidak pernah bertanya kepadanya tentang agamanya, karena namanya tergolong umum (tidak mengandung ciri Kristen). Masalahnya, saya tidak bisa jauh darinya. Saya sudah memintanya untuk memeluk Islam tapi ia menolak. Alasannya, karena Kristen adalah agama cinta dan toleransi. Ia juga berkata bahwa di Injil terdapat arahan: "Cintailah musuh-musuhmu dan mintalah keberkahan untuk orang yang melaknatmu", tetapi di Al-Quran justru tercantum: "Balaslah kejahatan dengan kejahatan". Ia juga berkata, "Jika engkau mampu membuktikan kebalikan dari itu, saya siap mengubah agama saya menjadi Islam." Itulah yang ia katakan. Mohon petunjuknya, apa yang harus saya lakukan? Saya mohon Anda menunjukkan kepada saya ayat-ayat Al-Quran yang mengajak kepada cinta, terutama mencintai musuh, karena saya belum bisa jauh dari gadis itu. Terima kasih dan penghormatan dari saya kepada Anda.

Jawaban:

Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah beserta keluarga dan para shahabat beliau.

Ketahuilah saudaraku, bahwa sarana kristenisasi itu sangat banyak. Mereka menggunakan berbagai macam cara, dan yang paling kuat adalah menggunakan perempuan dan wanita-wanita penggoda untuk para pemuda yang belum mengenal Agamanya. Perempuan-perempuan ini akan memulai aksi mereka dengan melontarkan syubhat-syubhat (fitnah dan keraguan). Di antara indikasi yang menguatkan hal ini adalah fakta bahwa gadis tersebut telah bersama Anda cukup lama tanpa pernah mengatakan bahwa dirinya adalah seorang penganut Kristen. Ia bahkan tidak pernah menunjukkan sesuatu yang mengindikasikan ke arah itu. Dan setelah ia yakin bahwa Anda telah masuk ke dalam perangkapnya, ia baru mengatakan bahwa dirinya seorang pemeluk Kristen. Kemudian ia melontarkan kepada Anda syubat yang Anda tanyakan ini (syubhat tentang mencintai musuh). Apakah Anda mengira bahwa kalau Anda bisa menjawab pertanyaannya, ia akan masuk Islam? Tidak, wahai saudaraku. Ia masih punya banyak pertanyaan yang lain, dan semua pertanyaan itu sebenarnya sangat remeh, sama seperti pertanyaannya di atas. Akan tetapi orang yang tidak mengenal Agamanya akan sangat bingung menghadapinya.

Ketahuilah, bahwa Islam datang untuk memberi putusan hukum di tengah manusia, sehingga ia memberikan pondasi-pondasi umum tempat ditegakkannya tiang-tiang struktur masyarakat. Islam menegakkan keadilan di tengah manusia, hingga kepada musuh sekalipun. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfiman (yang artinya): "Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil, dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap sesuatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan." [QS. Al-Mâ'idah: 8]

Islam juga sangat menganjurkan manusia untuk memberi maaf dan berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadanya. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman (yang artinya):

·         "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf (kebaikan), serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." [QS. Al-A`râf: 199];

·         "Dan orang-orang yang menyembunyikan amarahnya dan pemaaf kepada manusia. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." [QS. Âli `Imrân: 134]

Islam juga menyeru untuk membalas keburukan dengan kebaikan. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman (yang artinya):

·         "Balaslah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan." [QS. Al-Mu'minûn: 96];

·         "Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Balaslah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara ia terdapat permusuhan seolah-olah menjadi teman yang sangat setia." [QS. Fushshilat: 23]

Islam membolehkan manusia membalas perbuatan jahat dengan perbuatan serupa, tetapi tetap menganjurkan untuk memberi maaf dan melakukan perbaikan. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman (yang artinya): "Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim." [QS. Asy-Syûrâ: 40]

Apa yang disebutkan oleh gadis itu apakah bisa menegakkan keadilan di tengah manusia? Ataukah itu merupakan bentuk kerendahan diri dan kehinaan, serta membuka pintu bagi orang-orang fasik dan para pelaku maksiat untuk berlaku sewenang-wenang kepada orang shalih? Bahkan dalam konsep agama mereka disebutkan: Barang siapa menampar pipi kananmu berikanlah kepadanya pipi kirimu, barang siapa mencuri bajumu berikanlah kepadanya celanamu. Subhânallâh! Jika demikian, akan seperti apa hak-hak manusia disia-siakan, kehormatan dinodai, para

pencuri direstui? Bahkan kita berarti telah membuat mereka bertambah zalim! Apakah ini sejalan dengan akal sehat? Apakah gadis itu misalnya rela seseorang menampar mukanya, lalu ia memberikan sisi mukanya yang lain untuk ditampar lagi?

Kami menasihati Anda dengan beberapa hal: Pertama, hendaklah Anda bertobat kepada Allah dari hubungan Anda dengan gadis tersebut. Syarat pertama bertobat dari perbuatan itu adalah segera memutuskan hubungan dengannya, disertai dengan penyesalan dan tekad yang kuat untuk tidak kembali kepadanya di masa mendatang. Anda juga harus menghindar dari mendengarkan syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh orang-orang kafir dan sesat, karena syubhat-syubhat itu dapat menyebabkan bahaya besar terhadap orang yang tidak memiliki kedalaman ilmu Agama.

Kami berdoa semoga Allah senantiasa memberi kita semua petunjuk kepada jalan keselamatan dan jalan yang lurus.

Wallâhu a`lam.

www.islamweb.net