Cara Pertemuan Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—dengan Para Nabi di Langit

18-4-2019 | IslamWeb

Pertanyaan:

Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—mengatakan bahwa ketika Isra' Mikraj, beliau bertemu dengan para nabi Ulul `Azmi di setiap langit. Apakah keberadaan Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—di langit kedua atau langit ketiga itu adalah di atas planet seperti bumi, ataukah di atas udara, ataukah keberadaan mereka di sana dengan ruh saja?

Jawaban:

Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah beserta keluarga dan para shahabat beliau.

Teks-teks yang yang terdapat di dalam Al-Quran dan Sunnah menunjukkan bahwa langit memiliki bentuk fisik, bukan udara yang kosong. Langit memiliki pintu-pintu, sebagaimana disebutkan dalam hadits Isra' Mikraj di kitab Shahîh Al-Bukhari dan Muslim.

Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman (yang artinya): "Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami), dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. " [QS. Adz-Dzâriyât: 47]

Ibnu Katsir berkata, "Membangun maksudnya adalah mengangkat."

AllahSubhânahu wata`âlâ— juga berfirman (yang artinya):

·         "Dan Dia menahan (benda-benda) langit agar tidak jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya." [QS. Al-Hajj:65];

·         "Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang engkau lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy." [QS. Ar-Semoga Allah meridhainya`d: 2]

Teks-teks tentang masalah ini sangat banyak, tapi tentang bagaimana fisik langit, apakah transparan atau pekat, kita tidak mengetahuinya.

Adapun mengenai bagaimana pertemuan Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—dengan para nabi, Al-Hâfizh Ibnu Hajar Al-`Asqalâni—Semoga Allah merahmatinya—berkata dalam Syarh Shahîhil Bukhâri, "Pertemuan Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—dengan para nabi di langit padahal jasad mereka terkubur di bumi sering dipermasalahkan. Jawabannya adalah bahwa ruh mereka dibentuk seperti bentuk jasad mereka, atau jasad mereka memang dihadirkan untuk menemui Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—pada malam itu, sebagai bentuk pemuliaan dan penghormatan untuk beliau. Hal ini didukung oleh hadits yang diriwayatkan dari Abdurrahman ibnu Hâsyim dari Anas yang isinya: 'Dan Adam pun dibangkitkan untuk menemui beliau, lalu nabi-nabi yang lainnya (juga dibangkitkan)'. Pahamilah."

Wallâhu a`lam.

www.islamweb.net