Penjelasan Hadits, "Sesungguhnya Allah mengangkat (derajat) beberapa kaum dengan Kitab (Al-Quran) ini…"

17-4-2019 | IslamWeb

Pertanyaan:

Apa penjelasan hadits ini, Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Sesungguhnya Allah—Subhânahu wata`âlâ—mengangkat (derajat) beberapa kaum dengan kalam ini dan merendahkan yang lain." Apakah yang di maksud dengan kalam di sini adalah Kitab Allah (Al-Quran)?

Jawaban:

Segala puji bagi Allah dan shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah beserta keluarga dan para shahabat beliau.

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad dalam Musnadnya, Ibnu Mâjah, dan Ad-Dârimi. Redaksinya adalah, "Sesungguhnya Allah mengangkat (derajat) beberapa kaum dengan kitab ini, dan merendahkan dengannya sebagian yang lain."

Di dalam riwayat Ad-Dârimi disebutkan, "Sesungguhnya Allah mengangkat (derajat) beberapa kaum dengan Al-Quran ini…"

Tidak terdapat nash—sejauh pengetahuan kami—dengan redaksi yang disebutkan oleh saudara penanya yang budiman.

Kalam Allah adalah Kitab Allah. Para ulama telah mendefenisikan Al-Quran bahwasanya ia adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya, Muhammad—Shallallâhu `alaihi wasallam—yang bernilai ibadah dengan membacanya, serta digunakan untuk menantang dengan surat yang paling pendek darinya.

Adapun tentang penjelasan hadits tersebut, Ibnu Hajar Semoga Allah merahmatinya berkata, "Allah mengangkat derajat seorang mukmin yang berilmu di atas mukmin yang tidak berilmu."

Ketinggian dan pengangkatan derajat itu mencakup hal yang bersifat maknawi di dunia, berupa kedudukan yang tinggi dan nama baik, serta yang bersifat fisik di akhirat, berupa tingginya kedudukan di surga. Diriwayatkan di dalam Shahîh Muslim, dari Nâfi` ibnu Abdul Hârits Al-Khuzâ`i yang ketika itu menjadi pembantu Khalifah Umar—Semoga Allah meridhainya—untuk wilayah Makkah, bahwa ia pernah menemui Umar di daerah `Usfân. Umar lalu bertanya kepadanya, "Siapa yang engkau angkat sebagai pengganti?" Nâfî` menjawab, "Aku angkat sebagai pengganti anak seorang hamba sahaya kami yang paling menonjol."

Umar pun berkata, "Engkau angkat seorang hamba sahaya sebagai pengganti (ketika engkau tidak di tempat)?" Nâfî` berkata, "Dia pandai membaca Al-Quran dan mengetahui ilmu farâ'idh." Umar berkata, "Ketahuilah, sesungguhnya Nabi kalian pernah bersabda, 'Sesungguhnya Allah mengangkat (derajat) beberapa kaum dengan Kitab (Al-Quran) ini, dan merendahkan dengannya sebagian yang lain."

Al-Mubârakfûri—Semoga Allah merahmatinya—di dalam syarah Sunan At-Tirmidzi berkata, "Sabda Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—, 'Siapa yang amalannya memperlambat dirinya (mencapai derajat mulia), garis keturunan tidak akan dapat mempercepatnya,' maksudnya adalah garis keturunan tidak akan dapat menutupi kekurangannya, hanya karena ia memiliki garis keturunan terhormat di kaumnya. Karena kedekatan kepada Allah tidak bisa diperoleh dengan keturunan, melainkan dengan amal-amal shalih. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman (yang artinya): 'Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian.' [QS. Al-Hujurât: 13]. Bukti nyata hal tersebut adalah bahwa kebanyakan para ulama salaf (generasi terdahulu) adalah para hamba sahaya. Namun meskipun demikian, mereka adalah para pemimpin umat dan sumber-sumber rahmat. Sementara mereka yang memiliki garis keturunan tinggi yang tidak seperti itu, di tempat-tempat kebodohan mereka, mereka tidak diperhatikan dan dilupakan. Oleh karena itu, Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, 'Sesungguhnya Allah mengangkat derajat beberapa kaum dengan agama ini, dan dengannya juga merendahkan yang lainnya.' Demikianlah yang dikatakan oleh Al-Mula `Ali Al-Qâri."

Abu `Amr ibnu Ash-Shalâh berkata, "Kami meriwayatkan dari Az-Zuhri, ia berkata, 'Aku datang menemui Abdul Malik ibnu Marwan. Dia lalu bertanya kepadaku, 'Dari mana engkau datang, wahai Zuhri?' Aku menjawab, 'Dari Mekkah.' Dia (Abdul Malik) bertanya, 'Lalu siapa yang engkau tinggalkan di sana untuk memimpin para penduduknya?' Aku menjawab, '`Athâ' ibnu Abi Rabâh.' Dia bertanya, 'Dia dari kalangan bangsa Arab atau dari golongan hamba sahaya?' Aku menjawab, 'Dari golongan hamba sahaya.' Dia bertanya, 'Dengan apa ia memimpin mereka?' Aku menjawab, 'Dengan agama yang bagus dan riwayat (hadits) yang terpercaya.' Abdul Malik pun berkata, 'Sesungguhnya mereka yang memiliki agama yang bagus dan riwayat yang terpercaya memang pantas untuk memimpin.'

Dia (Abdul Malik) bertanya, 'Lalu siapa yang memimpin penduduk Yaman?' Aku menjawab, 'Thâwus ibnu Kaisân.' Dia bertanya, 'Dia dari kalangan bangsa Arab atau dari golongan hamba sahaya?' Aku menjawab, 'Dari golongan hamba sahaya.' Dia bertanya, 'Dengan apa ia memimpin mereka?' Aku menjawab, 'Dengan sesuatu yang digunakan `Athâ' untuk memimpin.' Dia lantas berkata, 'Sesungguhnya ia (Thâwus) memang pantas.'

Dia bertanya lagi, 'Lalu siapa yang memimpin penduduk Mesir?' Aku menjawab, 'Yazîd ibnu Abu Habîb.' Dia bertanya, 'Dia dari kalangan bangsa Arab atau dari golongan hamba sahaya?' Aku menjawab, 'Dari golongan hamba sahaya.'

Dia bertanya lagi, 'Lalu siapa yang memimpin penduduk Syâm?' Aku menjawab, 'Makl.' Dia bertanya, 'Dia dari kalangan bangsa Arab atau dari golongan hamba sahaya?' Aku menjawab, 'Dari golongan hamba sahaya. Dia seorang hamba sahaya dari suku Nubia yang dimerdekakan oleh seorang wanita dari suku Hudzail.'

Dia bertanya lagi, 'Lalu siapa yang memimpin penduduk Al-Jazîrah (daerah pulau yang terletak di tengah-tengah antara sungai Tigris dan Efrat)?' Aku menjawab, 'Maimûn ibnu Mihrân.' Dia bertanya, 'Dia dari kalangan bangsa Arab atau dari golongan hamba sahaya?' Aku menjawab, 'Dari golongan hamba sahaya.'

Dia bertanya lagi, 'Lalu siapa yang memimpin penduduk Khurasân?' Aku menjawab, 'Adh-Dhahhâk ibnu Muzâhim.' Dia bertanya, 'Dia dari kalangan bangsa Arab atau dari golongan hamba sahaya?' Aku menjawab, 'Dari golongan hamba sahaya.'

Dia bertanya lagi, 'Lalu siapa yang memimpin penduduk Bashrah?' Aku menjawab, 'Al-Hasan ibnu Abil Hasan.'Dia bertanya, 'Dia dari kalangan bangsa Arab atau dari golongan hamba sahaya?' Aku menjawab, 'Dari kalangan bangsa Arab.'

Abdul Malik lantas berkata, 'Ah, engkau telah membuat aku lega, wahai Zuhri. Demi Allah, sungguh para hamba sahaya kelak akan menjadi pemimpin atas bangsa Arab, sehingga mereka bisa berkhutbah di atas mimbar-mimbar sementara bangsa Arab di bawahnya.'

Az-Zuhri berkata, 'Wahai Amîrul Mukminîn, jika demikian, itu adalah perkara Allah dan agama-Nya. Siapa menjaganya, ia akan membuatnya menjadi pemimpin. Dan siapa menyia-nyiakannya, ia akan terjatuh."

Wallâhu a`lam.

www.islamweb.net