Islam Web

Artikel

  1. Home
  2. Artikel
  3. POKOK BAHASAN
  4. Islam
  5. Shalat

Sibuk Dengannya

Sibuk Dengannya

Ia tidak peduli dengan kenikmatan dunia. Ia tenggelam di lautan ketundukan kepada Allah. Ia selalu melaksanakan segala perintah Tuhannya, hingga ia merasakan kebahagiaan yang membuatnya seolah-olah berada di atas langit, jauh dari belenggu dan godaan dunia. Anggota tubuhnya tenang dan damai. Ia letakkan hatinya di depan keagungan Allah, sehingga shalat selesai tanpa terasa olehnya.

Tahukah Anda siapakah ia? Ia adalah orang yang khusyuk di dalam shalat. Dengan keadaan seperti itu, ia seolah berkata, "Wahai Tuhan, inilah aku hambamu yang telah tunduk kepada-Mu di dalam shalat ini. Aku merasa tenang dengan bermunajat kepada-Mu." Lalu saat itu juga, ia langsung diberi berbagai anugerah, keberkahan, hadiah, dan pemberian dari Allah. Hadiah paling berharga adalah ketika Allah memberikan berita gembira bahwa ia adalah manusia yang beruntung. Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—menyeru sang hamba dengan firman-Nya (yang artinya): "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyuk di dalam shalatnya." [QS. Al-Mu`minûn: 1-2]. Mereka sibuk dengan shalat mereka. Mereka sibuk dengan usaha mendapatkan kekhusyukan di dalamnya.

Bagi 'Urwah ibnuz Zubair, kenikmatan khusyuk ini ibarat samudera yang menenggelamkan perahu penderitaan, sehingga berbagai derita tidak mampu berlabuh di pantai fisik, dan tidak menembus alam hati. Bagaimana itu bisa terjadi?

Suatu ketika, kakinya diserang tumor ganas yang terus menjalar. Orang-orang mengatakan bahwa kakinya harus diamputasi agar penyakit itu tidak menyebar ke seluruh tubuhnya. Lalu ia meminta agar kakinya dipotong ketika ia melakukan shalat. Tatkala ia memulai takbir, kekhusyukan shalat membawanya terbang dari dunia menuju kenikmatan bermunajat kepada Allah. Saat itulah, orang-orang memotong kakinya dengan pisau, tanpa ia hiraukan sedikit pun. Pisau pun kemudian sampai ke tulangnya, sehingga mereka harus memotongnya dengan gergaji. Namun ia masih saja tidak menoleh walau sesaat. Kemudian kakinya dicelupkan ke dalam minyak panas, sehingga ia pun pingsan sejenak. Ketika sadar, ia bertanya, "Apakah kalian sudah selesai?"

Introspeksilah diri Anda. Di golongan manakah Anda berada? Apakah Anda termasuk orang-orang yang khusyuk di dalam shalat, di mana kekhusyukan membuat nilai-nilai iman yang indah tumbuh mekar di hati mereka, sehingga bagi mereka, mesjid ibarat sebidang taman Surga yang ditutupi oleh dinding persegi empat? Ataukah Anda tergolong orang-orang yang membuang kekhusyukan, serta menghadiahkan untuk Allah sebuah shalat yang tidak punya ruh sedikit pun?

Untuk Anda, pemilik budak yang cacat.

"Kekhusyukan dan kehadiran hati di dalam shalat merupakan ruh dan inti dari shalat itu sendiri. Shalat yang tidak khusyuk dan tidak diselami dengan hati ibarat bangkai yang tidak punya ruh. Tidakkah seorang hamba merasa malu jika ia menghadiahkan seorang budak yang telah mati kepada orang lain? Apalagi jika hadiah tersebut diberikan kepada seorang raja, pemimpin, atau sejenisnya. Begitu pulalah shalat yang kosong dari kekhusyukan, peresapan hati, dan perasaan tunduk kepada Allah. Ia ibarat jasad seorang budak tidak bernyawa yang dihadiahkan kepada seorang raja. Akibatnya, Allah tidak mau menerima shalat itu, dan tidak memberikan pahala apa-apa, walaupun kewajibannya telah terlepas di dunia. Sesungguhnya seorang hamba tidak akan mendapatkan ganjaran dari shalatnya, kecuali yang ia lakukan dengan khusyuk." [Lihat: Al-Wâbil Ash-Shayyib, karangan Ibnul Qayyim]

Memang aneh, tidakkah seorang hamba malu menghadiahkan kepada Tuhannya shalat yang tidak punya ruh dan tidak khusyuk, laksana menghadiahkan budak yang buta atau pincang kepada seorang raja? Dalam keadaan seperti itu, Allah tidak akan menerima shalatnya, dan tidak akan memberikan ganjaran apa-apa terhadapnya.

Oleh karena itu, Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wa sallam—bersabda, "Sesungguhnya ada orang yang selesai melaksanakan shalat, namun yang dicatat sebagai pahala dari shalatnya itu hanya sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, dan seperduanya saja." [Menurut Al-Albâni: hasan]. Itu juga yang membuat Ibnu Abbas menyatakan, "Engkau tidak akan mendapat ganjaran dari shalatmu, kecuali bagian yang engkau lakukan dengan khusyuk di dalamnya."

Pilihlah kelas Anda…

Dalam menunaikan kewajiban shalat, manusia terbagi kepada lima tingkatan:

1. Tingkatan orang yang zalim terhadap dirinya. Yaitu orang-orang yang tidak sempurna dalam berwudhuk, tidak menjaga waktu shalat, serta kurang sempurna rukun dan syaratnya.

2. Tingkatan orang yang menjaga waktu, syarat, dan rukun-rukun shalat secara lahir, serta menyempurnakan wudhuknya, tetapi tidak berusaha melawan bisikan Syetan. Hatinya ikut bersama angan-angan dan bisikan Syetan di dalam shalat.

3. Tingkatan orang yang menjaga rukun dan syarat-syarat shalat, serta berjuang keras untuk mengusir bisikan Syetan. Ia sibuk memperjuangkan shalatnya agar tidak dicuri oleh sang musuh. Artinya, ia berada di dalam shalat dan jihad (perjuangan).

4. Tingkatan orang yang selalu menyempurnakan semua syarat, rukun, dan tuntunan shalat. Hatinya juga selalu berusaha menjaga batasan dan tuntunan shalat, agar tidak ada yang tersia-siakan sedikit pun. Bahkan semua konsentrasinya dikerahkan untuk mendirikan shalat secara utuh dan sempurna sebagaimana seharusnya. Shalat dan suasana ibadah di dalamnya telah menyelimuti semua ruang kalbunya.

5. Tingkatan orang yang melaksanakan shalat sebagaimana tingkatan ke empat, tetapi juga sekaligus menyerahkan dan meletakkan hatinya di hadapan Allah—Subhânahu wata`âlâ. Ia gunakan hatinya untuk melihat Tuhan-nya, dan selalu merasakan pengawasan-Nya. Ia isi hatinya dengan rasa cinta dan pengagungan yang mendalam terhadap Sang Pencipta. Seolah-olah ia bisa melihat dan menyaksikan Tuhannya. Semua bisikan dan godaan Syetan luruh di hadapannya. Bahkan tirai pembatas antara dirinya dengan Tuhan-nya telah terangkat. Jika dibandingkan antara shalat orang seperti ini dengan shalat orang lain, maka ia ibarat langit dengan bumi. Orang seperti ini, di dalam shalatnya senantiasa sibuk dengan Sang Pencipta. Shalat telah menjadi penyejuk matanya.

Kesimpulannya, golongan pertama akan dihukum, golongan kedua akan di-hisâb (dihitung amalannya), golongan ketiga akan dihapuskan dosa-dosanya, golongan keempat akan diberi pahala, dan golongan kelima akan diberikan posisi yang dekat dengan Tuhan-nya, sebab ia termasuk orang yang menjadikan shalat sebagai penyejuk hati. Barang siapa yang merasa damai dengan shalatnya di dunia, maka ia akan merasa sangat bahagia karena kedekatannya dengan Allah di Akhirat kelak, sebagaimana ia juga akan merasa tenang di dunia. Barang siapa yang merasa senang dengan beribadah kepada Allah, niscaya juga akan disenangi oleh semua orang. Tetapi barang siapa yang tidak merasa senang dengan beribadah, niscaya akan menderita kerugian besar.

Di dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa apabila seorang hamba melaksanakan shalat, Allah berkata, "Angkatlah hijab (pembatas)! Jika sang hamba berpaling, Allah berkata, 'Bentangkan lagi (hijab itu)'." Kata "berpaling" di dalam hadits ini ditafsirkan dengan berpalingnya hati dari Allah kepada urusan lain. Apabila hati seorang hamba berpaling kepada yang lain, Allah langsung membentangkan hijab antara diri-Nya dengan sang hamba, sehingga Syetan akan datang memperlihat pernak-pernik dunia kepadanya laksana sebuah cermin. Apabila hati sang hamba benar-benar menghadap kepada Allah, dan tidak berpaling, Syetan pun tidak akan bisa menengahi antara Allah dengan hati itu. Syetan hanya akan masuk jika hijab tersebut telah dibentangkan. Apabila seorang hamba kembali kepada Allah dan menghadirkan hatinya di dalam shalat, Syetan akan lari. Namun apabila hatinya berpaling, Syetan akan datang. Seperti inilah kondisi hati dan musuhnya di dalam shalat. [Lihat: Al-Wâbil Ash-Shayyib, karangan Ibnul Qayyim]

Jadi, khusyuk di dalam shalat berarti kehadiran hati di hadapan Allah dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.

Keuntungan Orang-orang yang Khusyuk

Orang-orang yang khusyuk di dalam shalat akan mendapatkan keuntungan besar. Cukuplah sebagai keuntungan ketika kebahagiaan, ketenangan, dan kenikmatan hati menjadi milik para hamba yang khusyuk itu. Cukuplah pula sebagai keuntungan ketika mereka bisa hidup di bawah naungan Allah, bergumul dalam cinta dan ketaatan kepada Allah.

Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wa sallam—jika menghadapi suatu masalah, biasanya langsung mengerjakan shalat. Apabila hati beliau terasa sempit karena perlakuan buruk dan tipu daya manusia, beliau langsung memanggil Bilal, seraya berkata, "Wahai Bilal, dirikanlah shalat, dan buatlah kami merasa damai (tenang) dengannya." (HR. Abû Dâwûd; Menurut Al-Albâni: shahîh.]

Ketenangan seperti itu tidak akan muncul dari gerakan yang dibuat-buat. Ia hanya akan dirasakan oleh orang-orang yang mentadaburi ayat-ayat Allah dan menghayati makna-maknanya, sehingga shalat membawanya terbang dari kesedihan dan kegundahan menuju kebahagiaan dan keimanan.

Wahai Anda yang khusyuk di dalam shalat, pahala akan datang kepada Anda dari semua pintu. Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wa sallam—bersabda, "Tidaklah seorang muslim berwudhuk lalu menyempurnakan wudhuknya, kemudian mendirikan shalat, dan ia menghayati semua yang dibacanya, kecuali ia akan keluar seperti saat ia dilahirkan oleh ibunya." [HR. Muslim]

Maka balasan terhadap "penghayatan semua yang dibacanya" itu adalah dengan pengampunan Allah terhadap semua dosanya. Seolah-olah kekhusyukan adalah kain pembersih yang menghapus semua noda dosa yang terdahulu. Wahai saudaraku, satu kali shalat yang dihiasi dengan ruh kekhusyukan seperti ini sudah cukup untuk membuat catatan amalan Anda menjadi putih bersih.

Alangkah besarnya keuntungan yang didapat oleh orang-orang yang khusyuk.

Bukan ini saja, bahkan dengarkanlah sabda Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wa sallam—ketika beliau mengabarkan, "Apabila seorang hamba melaksanakan shalat, didatangkanlah semua dosa-dosanya, lalu diletakkan di atas kepala dan pundaknya. Setiap kali ia rukuk dan sujud, dosa-dosa itu akan berguguran." [Menurut Al-Albâni: shahîh]

Perjalanan Orang-orang yang Khusyuk

Perjalanan bersama orang-orang yang khusyuk ini akan kita mulai dari awal ketika kita mendengar suara muadzin berseru: "Allâhu Akbar". Saat itu, resapilah keagungan Allah. Dialah Dzat yang jauh lebih besar dan lebih mulia dari segala sesuatu. Ketika itu, hendaklah Anda meninggalkan semua urusan, untuk menyibukkan hati hanya dengan Sang Pencipta. Kemudian langsunglah berwudhuk dan menuangkan air yang akan membersihkan semua penyakit. Sebuah hadits diriwayatkan dari Abu Umâmah, bahwa Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wa sallam—bersabda, "Siapa pun yang melangkah untuk melakukan wudhuk dengan niat akan melakukan shalat, lalu ia membasuh kedua tangannya, niscaya semua dosa-dosa akan luruh dari dua telapak tangannya bersamaan dengan tetesan air yang pertama. Apabila ia berkumur, serta menghirup air dengan hidungnya, lalu mengeluarkannya, semua dosa-dosanya juga akan luruh dari lidah dan dua bibirnya bersamaan dengan tetesan air yang pertama. Apabila ia membasuh mukanya, seluruh dosa-dosanya juga akan luruh dari pendengaran dan penglihatannya bersamaan dengan tetesan air yang pertama. Apabila ia membasuh kedua tangannya hingga ke sikunya dan membasuh kakinya hingga ke mata kakinya, ia akan terbebas dari segala dosa dan kesalahan seperti pada saat ia dilahirkan oleh ibunya. Dan apabila berdiri untuk shalat, Allah akan mengangkat derajatnya, dan apabila ia duduk, ia akan duduk dalam keadaan selamat." [Menurut Al-Albâni: shahîh]

Kemudian lanjutkanlah perjalanan menuju shalat, seraya menghiasi munajat dan zikir Anda kepada Allah. Berusahalah untuk menjauhi segala pikiran yang berkaitan dengan dunia. Kekhusyukan hanya akan didapat oleh orang-orang yang menghadirkan hatinya di dalam shalat, melupakan urusan-urusan lain, serta mendahulukan shalat dari urusan apa pun. Saat itulah shalat akan menjadi sumber ketenangan dan penyejuk hati.

Sentuhan yang Lembut

Shalat yang khusyuk ibarat sentuhan lembut yang bisa menenggelamkan segala keletihan di dalam lautan ketenangan iman dan halaman rohani yang tinggi. Ia ibarat obat yang menyembuhkan kegundahan dan kelemahan jiwa. Shalat bisa menenangkan hati setelah dipenuhi oleh kegundahan, karena zikir memang menenangkan hati manusia, karena ia sedang menghubungkan dengan Sang Pemberi ketenangan itu. Shalat membuatnya merasa aman setelah dirasuki ketakutan, karena ia sedang mengadu kepada Sang Pemberi rezeki dan penentu ajal. Ia akan merasa damai setelah dihinggapi rasa khawatir, karena ia menyadari bahwa ia tidak akan ditimpa oleh apa pun kecuali yang telah ditetapkan oleh Allah terhadap dirinya.

Dari sini, kita melihat bahwa masa muda perlu disiram dengan air ketenangan, ibadah, dan kebahagiaan. Setiap pemuda di masa puberitas selalu berusaha mendapatkan ketenangan, sehingga orang yang sedang menjalani masa puber selalu butuh kepada ibadah.

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang konsisten memegang manhaj Allah bahwa mereka akan diberikan kehidupan bahagia yang bersih dari segala kotoran. Mereka akan dihindarkan dari rasa takut di dunia. Mereka pun akan hidup dengan tenteram, penuh dengan ketenangan jiwa dan kebahagiaan hati.

Solusi Kongkrit

Disini kita akan memaparkan beberapa solusi kongkrit yang dapat membantu Anda dalam mencapai kekhusyukan:

· Melakukan Persiapan Sebelum Shalat

Di antaranya dengan menjawab azan dan berdoa setelahnya dengan doa yang diajarkan oleh Syariat: "Allâhumma rabba hâzihid da'watut tâmmah wash shalâtil qâ`imah âti Muhammadanil wasîlata wal fadhîlah wab'atshul maqâmal mahmûdanil ladzî wa'adtah" (Ya Allah, Tuhan Pemilik seruan yang sempurna ini, dan Pemilik shalat yang akan didirikan ini, berikanlah Wasîlah (derajat tertinggi di Surga) dan keutamaan kepada Nabi Muhammad. Bangkitkanlah beliau dalam kedudukan yang terpuji sebagaimana yang telah Engkau janjikan).

Selain itu, juga dengan cara banyak berdoa kepada Allah antara azan dengan iqamah, serta menyempurnakan wudhuk dengan mengucapkan basmalah, zikir, dan doa setelah wudhuk: "Asyahadu anlâ ilâha illallâh wahdahû lâ syarîkalahu wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasûluhu. Allâhummaj'alni minat tawwâbîna waj'alni minal mutathahhirîn" (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang menyucikan diri). Termasuk juga dengan membiasakan mengosok gigi dan membersihkan mulut yang akan menjadi sarana membaca Al-Quran.

Kemudian pakailah pakaian yang bersih dan rapi, sebab Allah lebih berhak untuk ditemui dalam keadaan bersih dibandingkan siapa pun. Selain itu, pakaian yang rapi dan wewangian akan memberikan ketenangan jiwa kepada pemakainya, berbeda dengan pakaian tidur atau pakaian kerja.

Termasuk juga ke dalam poin ini mempersiapkan diri dengan menutup aurat dan membersihkan badan, kemudian bersegera ke mesjid, menunggu datangnya waktu shalat, serta meluruskan dan merapatkan shaf, karena Syetan biasa menyelinap ke dalam shaf yang tidak rapat. [Lihat: Tsalâtsah wa Tshalatsûn Sabab lil Khusyû'i fish Shalâh, karangan Muhammad shalih Al-Munajjid]

· Tenang di Dalam Shalat

· Mengingat Mati Ketika Shalat

Dalam sebuah hadits disebutkan: "Ingatlah mati di dalam shalatmu, karena orang yang mengingat mati di dalam shalatnya pasti akan berusaha membaikkan shalatnya. Dan shalatlah seperti orang yang merasa tidak ada shalat lain yang bisa ia lakukan lagi." [Menurut Al-Albâni: hasan]

· Mentadabburi Apa yang Dibaca

Yaitu menghayati ayat-ayat yang dibaca, serta benar-benar meresapi semua zikir, baik yang dibaca di dalam shalat, seperti tasbih, takbir, dan lain-lain, maupun yang dibaca setelah shalat.

Beginilah kondisi orang-orang mukmin ketika berinteraksi dengan shalatnya. Sa'îd ibnu 'Ubaid Ath-thâ`i berkata, "Aku mendengar Sa'îd ibnu Jubair mengimami jemaah di bulan Ramadan, dan ia membaca berulang-ulang ayat (yang artinya): "Ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar di dalam api." [QS. Ghâfir: 71-72]

Bisikan dari Kitab Fî Zhilâlil Qur`ân

"AllahSubhânahu wa Ta`âlâberfirman (yang artinya): "Yaitu orang-orang yang khusyuk di dalam shalat mereka." [QS. Al-Mu`minûn: 2]

Hati mereka merasakan saat-saat mendebarkan ketika shalat di hadapan Allah, sehingga hati mereka menjagi tenang dan khusyuk. Lalu kekhusyukan itu menjalar ke seluruh anggota tubuh, raut muka, dan gerakan mereka. Ruh mereka merasakan keagungan Allah, sehingga pikiran mereka kosong dari segala kesibukan, dan tidak disibukkan oleh apa pun selain-Nya. Mereka tenggelam dalam perasaan seperti ini, serta sibuk bermunajat kepada-Nya. Dalam suasana yang suci itu, semua yang ada disekitar mereka, dan yang ada dalam diri mereka seolah-olah hilang dari perasaan mereka. Mereka tidak menyaksikan apa pun selain Allah, tidak merasakan apa pun kecuali Allah, dan tidak memikirkan apa pun kecuali keagungan-Nya. Hati mereka pun bersih dari semua kotoran, dan mereka suci dari segala aib yang mengganggu. Sayap-sayap mereka tidak mau menggabungkan antara puing-puing tak berarti itu dengan keagungan Allah. Saat itulah atom yang tersesat akan kembali ke sumbernya, jiwa yang kebingungan akan kembali ke jalannya, hati yang murung akan mengetahui tempat mengadunya. Ketika itu, semua harga, segala hal, dan segenap manusia akan terasa kecil, kecuali yang berhubungan dengan Allah." [Fî Zhilâlil Qur`ân, Sayyid Quthb]

[Sumber: www. Islammemo.cc]

Artikel Terkait