Islam Web

Artikel

  1. Home
  2. Muslim Idial

Cemburu; Akhlak Orang-Orang Mulia

Cemburu; Akhlak Orang-Orang Mulia

Cemburu adalah akhlak mulia yang Allah karuniakan sebagai fitrah manusia normal. Islam memuji dan meninggikan kedudukan sifat ini, sehingga usaha membela kehormatan dan rasa cemburu terhadap istri dipandang sebagai jihad yang harus dipertahankan dengan darah dan nyawa. Orang yang melakukannya dikaruniakan derajat sebagai syahid di Surga kelak. Sebuah hadits diriwayatkan dari Sa`îd ibnu Zaid—Semoga Allah meridhainya, bahwa ia mendengar Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Barang siapa yang terbunuh karena membela hartanya maka ia adalah syahid, barang siapa yang terbunuh karena membela darahnya maka ia adalah syahid, barang siapa yang terbunuh karena membela Agamanya maka ia adalah syahid, dan barang siapa yang terbunuh karena membela keluarganya maka ia adalah syahid."

Pengertian Cemburu

Cemburu adalah perubahan kondisi hati dan bergolaknya amarah seseorang karena merasa ada orang lain yang ikut serta dalam hak pribadinya. Cemburu yang paling kuat biasanya terjadi pada pasangan suami-istri. Naluri ini ada pada laki-laki dan perempuan, bahkan terkadang lebih sering dan lebih kuat pada kaum perempuan. Ia akan berkobar ketika istri merasakan pengkhianatan suaminya atau ketika suaminya menyukai perempuan lain. Perasaan ini juga dapat bangkit pada diri laki-laki ketika merasa curiga terhadap tingkah laku istrinya atau merasakan bahwa istrinya telah menyukai laki-laki lain.

Hukum Cemburu

Cemburu yang ada pada tempatnya dan tidak berlebihan bagi kaum laki-laki dan peremuan termasuk perasaan terpuji. Hubungan suami-istri yang baik mengharuskan adanya perasaan ini. Kedua belah pihak wajib menghormati rasa cemburu pasangannya.

Namun, semua perkara selalu memiliki dua ujung (berlebihan atau kurang) dan pertengahan (moderat). Dalam sebuah hadits shahîh, Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bahwa bersabda, "Sesungguhnya sebagian dari cemburu itu ada yang disukai dan ada yang dibenci oleh Allah, dan sesungguhnya sebagian dari kesombongan itu ada yang disukai dan ada pula yang dibenci oleh Allah. Adapun cemburu yang disukai oleh Allah adalah cemburu karena kecurigaan (ada indikasi yang mengharuskannya), dan cemburu yang dibenci oleh Allah adalah cemburu yang bukan karena kecurigaan (tanpa alasan). Adapun kesombongan yang disukai oleh Allah adalah kesombongan seseorang (terhadap musuh) dalam peperangan dan kesombongan dalam sedekah. Sementara kesombongan yang dibenci oleh Allah adalah kesombongan seseorang dalam kezaliman dan berbangga-bangga diri." [HR. Ahmad. Menurut Al-Albâni: hasan]

Cemburu adalah Ciri Lelaki Sejati

Cemburu yang pada tempatnya tergolong salah satu ciri lelaki sejati. Sifat ini memberikan jaminan perlindungan bagi kehormatan, penjagaan terhadap hal-hal yang disucikan, pengagungan terhadap syiar-syiar Allah, dan pemeliharaan terhadap hukum-hukum-Nya. Ia merupakan indikasi kekuatan dan kemantapan iman di dalam hati. Karena itu, tidak heran jika di dunia Barat dan masyarakat-masyarakat serupa tersebar zina dan pamer aurat lantaran lemah dan hilangnya nilai-nilai kecemburuan ini.

Kita melihat betapa akhlak ini tertanam di dalam jiwa orang-orang Arab, bahkan sampai masyarakat Jahiliyah pun merasakan urgensinya. Mereka cemburu bila kehormatan tetangga mereka disentuh, bahkan walaupun oleh hawa nafsu mereka sendiri. Tidak jarang peperangan antar kabilah pecah lantaran kecemburuan terhadap perempuan, demi menjaga kehormatannya, dan untuk menjawab permintaan tolongnya. Suku-suku Arab bertempur dalam perang Fijâr disebabkan ulah beberapa pemuda Bani Kinânah yang melihat seorang perempuan di pasar `Ukâzh, lalu mereka memintanya membuka cadarnya. Perempuan itu menolak sehingga para pemuda itu pun menghinanya. Perempuan itu lantas berteriak, "Wahai keluarga Bani `Âmir!" Teriakannya itu kemudian disambut oleh pedang-pedang Bani `Âmir. Bani Kinânah pun tampil membela pemuda-pemudanya. Hawâzin turut murka membantu Bani `Âmir, sementara Quraisy turun membela Kinânah, hingga darah bertumpahan dan potongan-potongan tubuh berserakan dalam peperangan dahsyat itu.

Cemburu Melebihi Batas Wajar

Jika kecemburuan melampaui batasnya, ia akan menjadi bencana bagi pemiliknya dan orang-orang di sekelilingnya. Banyak tindak kriminal terhadap kehormatan dan nama baik dilakukan lantaran isu-isu yang tidak benar, sehingga nyawa melayang tanpa alasan yang benar dan tanpa terlebih dahulu memeriksa kebenaran informasi yang datang. Semuanya diberangus karena dorongan rasa cemburu yang meledak-ledak. Dan ini adalah fenomena yang sering kita saksikan di banyak tempat.

Ada pasangan suami-istri yang mengidap penyakit kecurigaan berlebihan yang akhirnya menjerumuskan rumah tangga mereka ke dalam kehancuran. Padahal, dalam sebuah hadits disebutkan: "Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—melarang kaum laki-laki mengetuk pintu (mendatangi) istrinya di malam hari untuk mencaritahu apakah mereka berkhianat atau untuk mencari-cari kesalahan mereka." [HR. Muslim]

Jadi, tidak dibenarkan seorang suami berprasangka buruk kepada istrinya. Ia tidak boleh berlebihan membuntuti segala gerak-gerik istrinya, karena itu akan merusak hubungan rumah tangga, sekaligus memutuskan tali hubungan yang diperintahkan oleh Allah untuk disambungkan.

Ali ibnu Abi Thalib—Semoga Allah meridhainya—berkata, "Jangan engkau banyak cemburu kepada istrimu sehingga engkau ditimpa keburukan karena dirimu sendiri."

Mu`âwiyah—Semoga Allah meridhainya—juga berkata, "Tiga hal yang merupakan ciri orang mulia: memberi maaf, perut yang lapar (puasa), dan tidak berlebihan dalam cemburu."

Karena itu, cemburu juga harus dalam batas-batas yang wajar. Batasannya telah disebutkan dalam nas-nas Syariat. Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Sesungguhnya Allah merasa cemburu dan orang mukmin juga merasa cemburu. Kecemburuan Allah adalah jika seorang mukmin melakukan perbuatan yang diharamkan oleh Allah." [HR. Al-Bukhâri]

Jika istri melanggar larangan Allah, ketika itu harus muncul kecemburuan. Cemburu seperti ini adalah cemburu yang terpuji. Mengabaikan rasa cemburu dalam kondisi seperti ini adalah tercela, bahkan menghalangi seseorang masuk ke dalam Surga. Ini berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari `Âmmâr ibnu Yâsir—Semoga Allah meridhainya, bahwa Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Ada tiga golongan manusia yang tidak akan pernah masuk Surga selamanya: dayyûts, laki-laki di kalangan perempuan, dan pecandu khamar." Para Shahabat ketika itu bertanya, "Wahai Rasulullah, adapun pecandu khamar telah kami pahami, tapi apa yang dimaksud dengan dayyûts?" Beliau menjawab, "Yaitu orang yang tidak mempedulikan siapa saja yang mangunjungi istrinya." Mereka kembali bertanya, "Lalu apa yang dimaksud dengan laki-laki di kalangan perempuan?" Beliau menjawab, "Perempuan yang menyerupai perilaku laki-laki."

Menghormati Kecemburuan Orang Lain

Jika seseorang merasakan sakitnya kehilangan atau rasa cemburu ketika ditinggalkan oleh miliknya yang berpindah ke tangan orang lain, kita berarti harus menghormati rasa cemburu ibu seorang laki-laki ketika kehilangan anak laki-lakinya yang berpindah ke pangkuan perempuan lain (istrinya), setelah ia asuh bertahun-tahun dengan mengorbankan segala miliknya demi menjadikan sang anak manusia terhormat di dalam hidup.

Bila seorang suami merasa cemburu terhadap istrinya, ia juga harus menghormati kecemburuan istrinya terhadap dirinya. Karena itu, tidak dibenarkan ia menampakkan rasa sukanya terhadap wanita lain, apalagi menceritakan petualangan-petualangannya dengan kaum perempuan, baik sebelum maupun sesudah menikah. Semua ini tidak boleh dibanggakan, tetapi justru harus disembunyikan, ditutupi, dan dibersihkan dengan tobat.

Istri juga harus menahan keinginan nafsunya sekuat mungkin, karena kecemburuan perempuan sangatlah kuat. Imam Ibnul Qayyim—Semoga Allah merahmatinya—berkata ketika menafsirkan firman Allah—Subhânahu wata`âlâ—(yang artinya): "Dan bagi mereka di dalamnya (Surga) istri-istri yang suci." [QS. Al-Baqarah: 25]: "Maksudnya: Mereka suci dari haid, buang air, dan segala kekurangan yang dimiliki perempuan-perempuan dunia. Batin mereka suci dari rasa cemburu, tindakan menyakiti suami, dan keinginan kepada laki-laki selain suami mereka."

Kecemburuan Allah—Subhânahu wata`âlâ

Terdapat nas-nas Syariat yang menetapkan sifat cemburu bagi Allah—Subhânahu wata`âlâ. Sifat cemburu bagi Allah tentu saja dalam arti yang sesuai dangan kemahaagungan dan kemahasempurnaan-Nya. Di antara konsekuensi kecemburuan Allah adalah kebencian–Nya terhadap perbuatan maksiat yang dilakukan oleh para hamba, termasuk perilaku mereka menyekutukan-Nya dalam suatu perkara yang merupakan hak Allah semata, seperti menjalankan perintah-Nya dan menjauhi maksiat karena-Nya.

Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Sesungguhnya Allah merasa cemburu dan orang mukmin juga merasa cemburu. Kecemburuan Allah adalah jika seorang mukmin melakukan perbuatan yang diharamkan oleh Allah." [HR. Al-Bukhâri]

Beliau juga bersabda, "Tidak ada seorang pun yang lebih pencemburu daripada AllahSubhânahu wata`âlâ. Oleh karena itu, Dia mengharamkan segala bentuk perbuatan bejat baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Dan tidak ada seorang pun yang lebih menyukai pujian daripada Allah—`Azza wajalla." [HR. Al-Bukhâri dan Muslim]. Dalam redaksi lain: "Orang mukmin merasa cemburu dan Allah lebih merasa cemburu." [HR. Al-Bukhâri dan Muslim]

Beliau juga bersabda, "Apakah kalian merasa heran melihat kecemburuan Sa`ad? Sungguh aku lebih cemburu daripadanya, dan Allah lebih cemburu daripada aku." [HR. Al-Bukhâri dan Muslim]

Cemburu Suami Terhadap Istrinya

Sa`ad ibnu `Ubâdah—Semoga Allah meridhainya—berkata, "Kalaulah aku melihat seorang laki-laki bersama istriku niscaya aku akan menebasnya dengan mata pedang yang tajam." Lalu Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Apakah kalian heran melihat kecemburuan Sa`ad? Sungguh aku lebih cemburu daripadanya, dan Allah lebih cemburu daripada aku." [HR. Al-Bukhâri dan Muslim]

Ketika para pemberontak menerobos masuk ke rumah Utsmân ibnu `Affân—Semoga Allah meridhainya, istri Utsman, Nâ'ilah, menguraikan rambutnya, seolah-olah ingin menyentuh rasa malu dan peri kemanusiaan mereka. Tetapi ketika itu, Utsman berteriak, "Ambil kerudungmu! Sungguh masuknya mereka ke rumah ini jauh lebih ringan bagiku daripada mengorbankan kehormatan rambutmu."

Seorang laki-laki memang semestinya memiliki rasa cemburu yang akan melindungi dan menjaga istrinya dari segala hal yang dapat menyentuh atau merendahkan kehormatannya.

Cemburu Istri Terhadap Suaminya

Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—suatu hari bertanya kepada 'Aisyah, "Apakah engkau cemburu?" 'Aisyah pun keheranan, lalu berkata, "Bagaimana mungkin orang seperti aku tidak cemburu terhadap orang seperti Anda?" [HR. Muslim]

Sebuah hadits diriwayatkan dari Anas—Semoga Allah meridhainya, ia berkata, "Suatu ketika, NabiShallallâhu `alaihi wasallamberada di rumah salah seorang istri beliau. Saat itu, seorang istri beliau yang lain mengirimkan sepiring makanan. Melihat itu, istri beliau yang di rumah itu memukul tangan pembantu (yang membawa kiriman itu) hingga piring tersebut jatuh dan pecah. NabiShallallâhu `alaihi wasallampun mengumpulkan pecahan piring tersebut dan meletakkan kembali isinya ke dalamnya sambil bersabda, 'Ibu kalian sedang cemburu'. Kemudian beliau menahan pembantu itu sampai beliau memberikan piring lain dari rumah istri tempat beliau berada saat itu. Beliau memberikan piring baru dari rumah itu untuk istri beliau yang mengirimkan makanan tadi, dan meninggalkan piring yang pecah di rumah itu." [HR. Al-Bukhâri]

Peristiwa-Peristiwa Tentang Cemburu

· Al-Hâfizh Ibnu Katsîr—Semoga Allah merahmatinya—menyebutkan dalam kitab Al-Bidâyah wan Nihâyah, Bab Peristiwa-Peristiwa Tahun 286 H., "Di sebutkan dalam kitab Al-Muntazham: Di antara kejadian menakjubkan yang terjadi pada tahun ini adalah bahwa seorang perempuan datang mengadu kepada hakim daerah Rayy (Salah satu kota di Iran sekarang). Ia mendakwa suaminya masih berhutang mahar kepadanya sebanyak 500 dinar. Namun suaminya mengingkari hal tersebut. Perempuan itu pun datang membawa saksi yang menyatakan kebenaran dakwaannya. Lalu para hakim berkata, 'Kami ingin perempuan ini membuka cadarnya supaya kami bisa membuktikan apakah ia benar-benar istri Anda atau tidak'. Ketika mereka terus bersikeras ingin melakukan itu, sang suami berkata, 'Jangan lakukan itu, ia benar dengan apa yang ia dakwakan!' Ia membenarkan dakwaan istrinya demi menjaga wajah istrinya agar tidak dilihat oleh orang lain. Ketika si istri mengetahui hal itu, bahwa suaminya ingin agar wajahnya terjaga dari pandangan orang lain, ia pun berkata, 'Ia bebas dari dakwaan maharku di dunia dan Akhirat'. Al-Hâfiz As-Sam`âni menambahkan dalam kitab Al-Ansâb, 'Lantas sang hakim berkata karena kagum dengan sifat cemburu kedua orang itu, 'Peristiwa ini harus dicatat dalam daftar akhlak-akhlak mulia'."

· Sebagian sejarawan menyebutkan beberapa di antara kebaikan Al-Hajjâj ibnu Yûsuf Ats-Tsaqafi: "Bahwa ada seorang perempuan muslimah ditawan di India. Perempuan itu berteriak, 'Aduhai di manakah Al-Hajjâj!' Ketika mendengar berita ini, Al-Hajjâj pun berkata, 'Aku penuhi panggilanmu'. Lalu ia menginfakkan tujuh juta dirham demi menyelamatkan perempuan tersebut."

· Kisah perempuan mulia yang ditawan oleh Romawi. Ia tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Khalifah Al-Mu`tashim Billah selain Ukhuwwah Islamiyah. Perempuan itu meminta tolong kepadanya ketika ia disiksa oleh penguasa `Amûriyah. Ia akhirnya terbebaskan melalui teriakan kerasnya yang terekam oleh sejarah: "Wâ Mu`tashimâh (Aduhai di manakah Mu`tashim)!" Langsung setelah panggilan itu sampai ke telinga Al-Mu`tashim—ketika itu ia sedang beristirahat—ia menjawab dengan sepenuh rongga badannya, "Aku penuhi penggilanmu." Saat itu juga, ia bergerak ke medan perang, diikuti pasukan besar kaum muslimin. Hati setiap tentaranya dipenuhi rasa cemburu untuk membela kehormatan perempuan itu. Mereka pun berhasil memberikan kekalahan besar kepada musuh. Mereka menerjang benteng musuh hingga ke jantung negerinya, sampai mereka tiba di `Amûriyah, lalu menghancurkan benteng musuh di sana, hingga mereka berhasil membebaskan perempuan yang ditawan itu. Al-Mu`tashim kemudian berkata kepadanya, "Bersaksilah di hadapan kakekmu Muhammad—Shallallâhu `alaihi wasallam, bahwa aku datang untuk membebaskanmu."

Pada abad ke-7 Hijriah, ketika perpecahan menghinggapi tubuh kaum Muslimin hingga melemahkan mereka, kaum Salibis datang menjajah beberapa negeri muslim, bahkan ingin terus menambah wilayah jajahan mereka. Mereka saling bantu satu sama lain, hingga hampir saja mereka dapat menguasai Mesir. Penguasa Fathimiyah di Mesir kala itu yang bergelar "Al-`Âdhidh li Dînillâh" berpikir untuk meminta bantuan dari penguasa wilayah Syâm, Nûruddîn Zangki. Tetapi bagaimana mungkin, sementara penguasa Syâm tidak mengakui keabsahan Daulah Fathimiyah di Mesir, dan hanya mengakui kekhalifahan Abbâsiyah di Bagdhâd yang bermusuhan sangat kuat dengan Bani Fathimiyah?

Tetapi akhirnya, ia menemukan solusi melalui perempuan dan rasa cemburu untuk membela kehormatannya. Al-`Âdhidh mengirim surat permohonan bantuan kepada Nûruddîn Zangki. Surat itu ia lengkapi dengan seruan yang sangat menggugah, berupa seikat rambut perempuan-perempuan di daerah kekuasaannya di Kairo. Inilah yang kemudian sangat mempengaruhi hati Nûruddîn. Bala tentara dan penduduk Syâm terbakar cemburu demi memelihara kehormatan kaum perempuan di Mesir itu. Mereka rela melepas kepergian buah hati-buah hati mereka di bawah pimpinan Asaduddîn Syirkuh dan Yûsuf ibnu Ayyûb (Shalahuddîn Al- Ayyûbi) untuk berangkat menyelamatkan Mesir dari ancaman tentara Salib.

Demikianlah, perempuan dengan seikat rambutnya telah menciptakan peristiwa yang mengubah arah sejarah dan menjadikan realita dunia berbalik 180 derajat. Hingga akhirnya terjadilah perang Hiththîn yang membersihkan tanah suci Al-Quds dari penjajahan. Pasukan muslim berhasil mengusir pulang pasukan Salib ke negeri mereka.

Fenomena ghîrah (cemburu) yang ada di tengah masyarakat muslim telah mengangkat mereka begitu tinggi ke angkasa bersama bintang-bintang. Perasaan mulia itu telah meninggikan kedudukan mereka ke tempat yang paling tinggi, penuh keutamaan dan kesucian. Sebuah fenomena yang sangat berlawanan dengan masyarakat-masyarakat kafir di Timur dan Barat yang menjalani kehidupan tanpa cemburu, penuh keburukan moral, ketercemaran akhlak, kehinaan, dan kenistaan. Pola hidup yang bahkan dijauhi oleh binatang. Karena di kalangan hewan, pejantan merasa cemburu terhadap betinanya, sehingga ia rela bertarung demi betinanya menghadapi semua pejantan lain yang mengganggunya, sampai ia menjadi pemenang.

Demi Allah, sungguh benar para imam kita ketika mereka berkata, "Sesungguhnya setiap umat yang lemah rasa cemburu pada para lelakinya niscaya akan minim keterjagaan perempuan-perempuannya."

Walhamdulillâhi Rabbil `âlamîn.

Artikel Terkait