Islam Web

Artikel

  1. Home
  2. HAJI & UMRAH
  3. Istilah-Istilah dalam Haji & Umrah

Hari Tasyrîq

Hari Tasyrîq

Pertanyaan:

Apakah hari Tasyrîq itu? Dan apa keistimewaan yang membedakannya dengan hari-hari yang lain?

Jawaban:

Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—beserta keluarga dan para shahabat beliau.

Hari Tasyrîq adalah hari kesebelas, dua belas, dan tiga belas dari bulan Dzulhijjah. Terdapat beberapa ayat dan hadits tentang keutamaan hari-hari ini, di antaranya:

1. Firman Allah—`Azza wajalla—(yang atinya): "Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang." [QS. Al-Baqarah: 203]. Maksudnya adalah hari-hari Tasyrîq, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Umar dan mayoritas ulama.

2. Sabda Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—tentang hari Tasyrîq, "Sesungguhnya ia adalah hari-hari untuk makan, minum, dan berzikir menyebut Allah—`Azza wajalla." Berzikir menyebut Allah—`Azza wajalla—yang diperintahkan pada hari Tasyrîq dilakukan dengan beberapa bentuk, di antaranya:

- Berzikir mengingat Allah—`Azza wajalla—setelah melaksanakan shalat fardhu dengan bertakbir. Hal ini disyariatkan hingga akhir hari Tasyrîq menurut mayoritas ulama;

- Membaca basmalah dan takbir di saat menyembelih kurban. Karena waktu menyembelih kurban berlangsung hingga akhir hari Tasyrîq;

- Berzikir menyebut Allah ketika makan dan minum. Karena yang disyariatkan ketika makan dan minum adalah membaca basmalah di awalnya dan membaca hamdalah di akhirnya. Disebutkan dalam sebuah hadits, bahwa Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Sesungguhnya Allah—`Azza wajalla—meridhai hamba yang ketika memakan makanan memuji Allah atas makanan itu, dan ketika meminum minuman juga memuji Allah atas minuman itu." [HR. Muslim];

- Menyebut Allah dengan bertakbir ketika melontar jumrah pada hari Tasyrîq. Hal ini khusus bagi orang-orang yang melaksanakan ibadah haji;

- Zikir mutlak (bebas). Dianjurkan untuk memperbanyak zikir secara mutlak pada hari Tasyrîq ini. Umar bertakbir di dalam tendanya di Mina, dan itu didengar oleh semua orang. Lalu mereka pun ikut bertakbir, sehingga Mina penuh dengan lantunan takbir. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman (yang artinya): "Dan apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji kalian, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kalian menyebut (membangga-banggakan) nenek moyang kalian, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada yang berdoa, 'Wahai Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia', dan tiadalah baginya kebahagian (yang menyenangkan) di Akhirat." [QS. Al-Baqarah: 200]

Banyak tokoh salafus shalih menganjurkan untuk memperbanyak doa pada hari tasyrîq.

Di dalam sabda Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam: "Sesungguhnya ia (hari Tasyrîq) adalah hari-hari untuk makan, minum, dan berzikir menyebut Allah—`Azza wajalla" terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa makan dan minum pada Hari Raya dilakukan untuk membantu kita mengingat serta mentaati Allah—`Azza wajalla. Dan itu adalah salah satu bentuk kesempurnaan syukur, yaitu menjadikan nikmat itu sebagai penolong dalam ketaatan.

Allah—Subhânahu wata`âlâ—juga telah memerintahkan di dalam Kitab-Nya agar kita memakan makanan yang baik-baik dan bersyukur kepada-Nya. Siapa yang menjadikan nikmat-nikmat Allah sebagai penolong untuk berbuat maksiat, sesungguhnya ia telah mengingkari nikmat Allah dan menggantinya dengan kekufuran. Sehingga sangat pantas bila nikmat itu dicabut oleh Allah, sebagaimana dikatakan dalam sebuah syair:

"Apabila engkau berada dalam kenikmatan maka peliharalah.

Karena sesungguhnya maksiat itu menghilangkan nikmat.

Jagalah ia dengan bersyukur kepada Tuhan.

Sesungguhnya syukur kepada Tuhan menghilangkan murka-Nya."

3. Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—melarang kita berpuasa pada hari-hari Tasyriq itu. Sebagaimana ditegaskan dalam sabda beliau: "Janganlah kalian berpuasa pada hari-hari ini, sesungguhnya ia adalah hari-hari untuk makan, minum, dan berzikir menyebut Allah—`Azza wajalla." [HR. Ahmad. Menurut Al-Albâni: shahîh]. [Lihat: Lathâiful Ma`ârif, karya Ibnu Rajab]

Ya Allah, berilah kami taufik untuk melakukan amal-amal kebaikan. Kokohkanlah keimanan kami di saat kematian, dan rahmatilah kami dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Pemberi limpahan nikmat dan karunia.

Walhamdulillâhi Rabbil `âlamîn

[Sumber: www.islam-qa.com]

Artikel Terkait